JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
How to gamble with Cryptocurrency History of Roulette How to play Poker How to Win At Blackjack How to Play Roulette Casino hashdice bitcoin slot games

“HILOSIA” Varietas Unggul Baru Tanaman Buah Naga Inovasi Balitbu Tropika Balitbangtan : Produksi Tinggi dan Tanpa Bantuan Penyerbukan

(Oleh: Jumjunidang, Sri Hadiati, Ni Luh Putu Indriyani, Irwan Muas)
Buah naga (Hylocereus spp.) merupakan tanaman asli daerah hutan tropis dan sub-tropis di Meksiko dan Amerika Tengah dan Selatan (Mizrahi et al. 1997).  Dari  pusat asalnya, buah naga menyebar ke daerah tropis dan sub tropis Amerika, Asia, Australia dan Timur Tengah (Patwary et al. 2013). Buah naga telah dibudidayakan di banyak negara tropis seperti, Australia, Kamboja, Cina, Israel, Jepang, Nikaragua, Peru, Filipina, Spanyol, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, AS Barat Daya dan Vietnam dll. (Mizrahi dan Nerd 1999; Nobel dan Barrera 2002) dan saat ini berkembang  dalam skala komersial di banyak daerah tropis, khususnya di Vietnam dan negara Asia Tenggara lainnya.

Di Indonesia, tanaman buah naga mulai ditanam dan dikembangkan secara komersial sejak tahun 2003, meskipun terbilang baru, komoditi ini sudah begitu popular di masyarakat luas. Komoditas ini sudah ditanam hampir di seluruh wilayah Indonesia, dengan pusat pengembangan berada di pulau Jawa khususnya daerah Banyuwangi (Jawa Timur) dan Kalimantan Timur. Di samping pemasaran untuk konsumsi domestik, produksi buah naga dari Indonesia sudah diekspor ke beberapa negara.

Tanaman buah naga dapat beradaptasi baik di Indonesia pada kondisi agroklimat yang bervariasi, mulai dari daerah pantai hingga ketinggian 800 m dpl. Tanaman ini juga dapat tumbuh baik pada tanah berpasir, lahan marginal seperti lahan kering masam dan gambut (Muas and Jumjunidang 2015). Ada beberapa jenis buah naga yang dibudidayakan di Indonesia, namun buah naga dengan kulit dan  daging buah merah (H. polyrhizus) merupakan jenis yang banyak ditanam dan diminati konsumen karena buah naga ini mempunyai aktivitas antioksidan yang lebih tinggi  dibandingkan dengan jenis lainnya (Hernández and Salazar 2012).

Salah satu kendala dalam budidaya buah naga termasuk buah naga daging merah adalah kemampuan membentuk buah/fruit set  secara alami yang rendah dan ukuran buah kecil.  Fruit set yang rendah disebabkan antara lain adanya sifat ketidakserasian sendiri (self incompatible), posisi putik yang lebih tinggi dibandingkan dengan benangsari, dan faktor lainnya (Merten 2003 ; Kriswiyanti et al. 2009). Untuk meningkatkan fruit set dan ukuran buah pada tanaman buah naga yang bersifat self incompatible diperlukan bantuan penyerbukan dengan serbuk sari dari jenis buah naga lainnya. Sedangkan pada tanaman buah naga dengan posisi putik lebih tinggi dibandingkan benangsarinya maka diperlukan bantuan penyerbukan (Nadila 2014). 

Penanaman buah naga yang membutuhkan bantuan penyerbukan menyebabkan sistem budidaya tidak efesien karena membutuhkan tambahan biaya tenaga kerja. Dalam rangka meningkatkan produksi dengan  budidaya yang efisien diperlukan varietas tanaman buah naga dengan produktivitas tinggi dan mampu menyerbuk sendiri atau tanpa bantuan penyerbukan oleh manusia.

Pada tahun 2011-2013 Balitbu Tropika melakukan koleksi, karakterisasi dan seleksi sumber daya genetik (SDG) buah naga.  Jumlah koleksi tanaman buah naga Balitbu Tropika sebanyak 30 aksesi yang berasal dari Solok, Padang, Padang Panjang, Padang Pariaman, Yogyakarta dan Kalimantan Timur.  Koleksi tersebut ditanam di IP2TP Aripan, Balitbu Tropika di Solok. Hasil karakterisasi dan seleksi diperoleh satu aksesi buah naga dengan kulit dan daging buah merah yaitu Hp 01 yang mempunyai keunggulan antara lain ukuran buah besar dan produksi tinggi tanpa bantuan penyerbukan dan selanjutnya  ditetapkan sebagai  Pohon Induk Tunggal (PIT).  Pada tahun 2013 dilakukan perbanyakan tanaman dari PIT tersebut dengan cara stek batang dan penanaman di lapangan secara bertahap. Penanaman dan pengujian dilakukan di IP2TP Aripan Balitbu Tropika di Kabupaten Solok dengan ketinggian tempat ± 455 m di atas permukaan laut.

Penanaman di lapangan menggunakan tiang penyangga beton, dengan sistem tanam tiang tunggal. Setiap tiang penyangga berisi 4 tanaman dan jarak antar tiang 3x3 m, pemeliharaan tanaman berpedoman pada teknik budidaya buah naga yang disusun oleh Balitbu Tropika. Pada tahun 2017 dan 2018 dilakukan pengujian keunggulan menggunakan uji observasi terhadap karakter batang, bunga dan buah yang mengacu pada panduan UPOV (2011) dan selanjutnya dilakukan pendaftaran varietas hortikultura dengan nama buah naga Hilosia.

Varietas unggul baru (VUB) buah naga Hilosia telah ditetapkan  dengan SK Menteri Pertanian Republik Indonesia no. 257/Kpts/SR.130/D/III/2021. VUB ini mempunyai keunggulan bobot buah besar (400-930 g/buah) tanpa bantuan penyerbukan dan produksi per hektar per tahun tinggi yaitu 43,90-45,60 ton. Varietas pembanding adalah Sabila Merah dengan bobot buah 381-424 g/buah dan produksi 25,7-27,9 ton/hektar/tahun.  Performa  tanaman buah naga Hilosia, bentuk buah dan warna kulit serta daging buah disajikan pada Gambar 1. Penciri utama Hilosia adalah warna kelopak bunga hijau muda (Yellow Green Group 144 C), warna kepala putik hijau kekuning-kuningan (Yellow Green  Group 154 C), dan posisi benangsari terhadap putik sama tinggi (Gambar 2). Deskripsi lengkap buah naga Hilosia disajikan pada Tabel 1.

VUB buah naga Hilosia telah mulai dikembangkan oleh masyarakat di Sumatera Barat, khususnya di Kabupaten Solok. Saat ini tercatat luas tanam varietas ini sekitar 90 ha, dengan sentra pengembangan di Kecamatan “X Koto Dibawah.”

Deskripsi Varietas Unggul Buah Naga Hilosia:

Asal

:

Koleksi Balitbu Tropika

Silsilah

:

Seleksi Tanaman Induk

Golongan Varietas

:

Klon

Bentuk penampang batang

:

Segitiga bersiku

Tekstur permukaan batang

:

Halus

Warna batang

:

Hijau tua (Green  Group 137 B )

Tepi batang

:

Cembung

Panjang ruas batang (cm)

:

33,4 -133,0

Lebar ruas batang (cm)

:

5,5 - 8,1

Tinggi ruas batang (cm)

:

3,0 - 6,8

Tinggi arch (gelombang) (cm)

:

0,1 - 0,5

Jarak antar duri (cm)

:

2,8 - 5,5

Jumlah duri

:

3 - 4

Panjang duri terpanjang (cm)

:

0,38 - 0,54

Warna utama duri

:

Coklat (Greyed Orange Group  165 A)

Intensitas warna kemerahan pada tunas batang

:

Sedang

Bentuk tunas bunga

:

Ovate

Bentuk ujung tunas bunga

:

Runcing

Warna utama tunas bunga

:

Hijau (Yellow Green  Group 144 B)

Panjang pericarpel bunga (cm)

:

16,5 – 18,0

Diameter pericarpel bunga (cm)

:

3,00 - 3,27

Panjang perianth bunga (cm)

:

16,0 - 17,5

Intesitas warna kemerahan pada sirip bunga

:

Sedang

Warna tepi sirip bunga

:

Merah keungu-unguanan (Greyed Purple  Group 187 C)

Warna tengah sirip bunga

:

Hijau muda  (Yellow Green Group 144 C)

Bentuk bunga pada saat mekar

:

Seperti corong memanjang

Panjang kelopak bunga (cm)

:

15,4 - 16,7

Lebar kelopak bunga (cm)

:

1,2 - 1,6

Jumlah kelopak bunga

:

27 - 30

Warna kelopak bunga

:

Hijau muda (Yellow Green Group 144 C)

Pola warna kelopak bunga

:

Di tepi

Panjang mahkota bunga (cm)

:

11,7 - 13,9

Lebar mahkota bunga (cm)

:

3,9 - 5,2

Jumlah mahkota bunga

:

20 - 24

Warna mahkota bunga

:

Putih (White NN 155 D)

Panjang tangkai putik (cm)

:

24,5 - 27,0

Diameter tangkai putik (cm)

:

0,44 - 0,50

Jumlah cuping pada putik

:

25 – 28

Jumlah cuping tidak bercabang

:

22 – 28

Jumlah cuping bercabang

:

1 – 3

Warna kepala putik

:

Hijau kekuning-kuningan (Yellow Green  Group 154 C)

Warna tangkai putik

:

Hijau kekuning-kuningan (Yellow Green Group 154 D)

Warna benang sari

:

Kuning

Panjang tangkai sari (cm)

:

9,5 - 14,0

Jumlah tangkai sari

:

1010 - 1086

Warna tangkai sari

:

Kuning (Yellow Group 4 D)

Warna kotak sari

:

Kuning (Yellow Group 9 C)

Percabangan pada kepala putik

:

Tidak ada-ada

Posisi benangsari terhadap kepala putik

:

Sama tinggi

Bentuk buah

:

Elliptical

Bobot buah (g)

:

400 - 930

Panjang buah (cm)

:

8,66 - 13,50

Lebar buah (cm)

:

7,95 - 11,80

Jumlah sirip pada buah

:

20 - 42

Posisi sirip terhadap kulit buah

:

Sangat terbuka

Panjang sirip pada bagian  tengah buah (cm)

:

1,8 - 5,2

Tebal sirip pada bagian tengah buah (mm)

:

1,8 - 2,9

Lebar  sirip pada bagian tengah (cm)

:

3,0 - 4,5

Warna utama sirip  di bagian tengah buah

:

Merah (Red Group 47 C)

Panjang sirip pada ujung buah (cm)

:

4,1 - 6,2

Warna utama sirip di bagian ujung buah

:

Hijau (Yellow Green  Group 144 B)

Tebal kulit (mm)

:

1,83 - 2,83

Warna utama kulit

:

Merah keungu-unguan (Red Purple Group 61 B)

Warna daging buah

:

Merah keungu-unguan (Red Purple Group 61 A)

Tekstur danging buah:

:

Sedang

Rasa

:

manis sedikit masam – manis

Kerapatan biji per 2x2x2 cm

:

175 - 300

Kadar gula (oBrix)

:

16,1- 19,0

Kedalaman rongga pada ujung buah (cm)

:

0,8 - 1,8

Bobot 100 biji (g)

:

0,11 - 0,14

Kadar air (%)

:

76,42 - 83,57

Vitamin C (mg/100 g)

:

9,57 - 11,58

Total asam (%)

:

0,50 - 0,86

Persentase bagian buah yang dikonsumsi (%)

:

73,17 - 80,65

Daya simpan buah pada suhu 25 - 27 oC (hari)

:

7 - 8

Jumlah buah per tanaman per tahun

:

16 – 33

Produksi per tanaman per tahun (kg)

:

13,10 -15,00

Produksi per hektar per tahun (ton)

:

43,90 - 45,60

Identitas  pohon induk tunggal

:

PIT milik Balitbu Tropika di IP2TP Aripan Solok

Nomor registrasi pohon induk tunggal

:

-

Perkiraan umur pohon induk tunggal

:

6 tahun

Penciri utama

:

Warna kelopak bunga Hijau muda (Yellow Green Group 144 C); warna kepala putik Hijau kekuning-kuningan (Yellow Green  Group 154 C); dan posisi benangsari terhadap putik sama tinggi

Keunggulan Varietas

:

Bobot buah besar (400-930 g) tanpa bantuan penyerbukan dan produksi per hektar per tahun tinggi (43,90-45,60 ton).

Wilayah adaptasi

:

Beradaptasi baik pada dataran  medium di Kab. Solok

hls1

(Jumjunidang, Sri Hadiati, Ni Luh Putu Indriyani, Irwan Muas)

Pin It

Comments powered by CComment