JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
#gruemenu.grue

Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula Untuk Meningkatkan Pertumbuhan Dan Menekan Serangan Penyakit Layu Pada Tanaman Pisang

Muas, I. dan Jumjunidang
Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika
Jl. Raya Solok-Aripan, KM. 8, Solok – Sumatera Barat

Secara umum kualitas serta produktivitas pisang yang dihasilkan petani Indonesia masih tergolong rendah. Beberapa permasalahan utama yang berkaitan dengan komoditi pisang ini adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang cukup serius, serta penerapan teknologi budidaya berdasarkan anjuran yang masih kurang. Tindakan pengelolaan hara pada tanaman pisang masih jarang dilakukan, kalaupun ada belum mengacu kepada kebutuhan tanaman itu sendiri. Serangan penyakit layu yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. cubense (Foc) dan Ralstonia solanacearum (layu bakteri), sudah menimbulkan kerugian yang sangat besar. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, berbagai upaya telah banyak dan terus dilakukan. Pada kesempatan ini akan dikemukakan beberapa hasil penelitian berkaitan dengan aplikasi fungi mikoriza arbuskula (FMA) yang secara umum bertujuan untuk mengatasi beberapa permasalahan dalam budidaya pisang. Beberapa kegiatan penelitian ini dilakukan di laboratorium, rumah kaca dan lahan petani. Dari hasil beberapa penelitian tersebut, secara umum dapat dikemukakan bahwa aplikasi FMA pada tanaman pisang memberikan hasil yang cukup menggembirakan. Bibit pisang ambon hijau yang diinokulasi dengan FMA secara nyata menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding dengan bibit yang tidak diinokulasi (kontrol). Perlakuan Bioriza 02 G memperlihatkan hasil pertambahan tinggi batang yang tertinggi yaitu 17,847 cm, diikuti oleh perlakuan Glomus fasciculatum yaitu 16,719 cm, Glomus agregatum (16,662 cm), Acaulospora tuberculata (16,243 cm) dan Glomus mosseae (15,481 cm), pada umur 2 bulan. Hampir seluruh perlakuan memperlihatkan hasil yang berbeda nyata dengan kontrol (tanpa FMA). Kemudian, inokulasi FMA pada bibit pisang hasil perbanyakan kultur in-vitro dapat meningkatkan ketahanan bibit terhadap serangan R. solanacearum. Bibit pisang yang tanpa FMA, intensitas serangan sudah kelihatan pada minggu ke dua dan pada minggu ke empat setelah diinokulasi dengan R. solanacearum tingkat serangan sudah mencapai 100%. Sedangkan bibit pisang yang diaplikasikan FMA tidak menunjukkan gejala serangan R. Solanacearum. Selain itu, pada lahan endemis Fusarium di kabupaten Tanah Datar, juga telah dilakukan aplikasi beberapa agen hayati seperti Trichoderma harzanium, Pseudomonas fluorescence (P.f), FMA (Bioriza 02 G) dan tanpa agen hayati (kontrol). Varietas yang digunakan adalah pisang ambon cv. buai. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa perlakuan dengan aplikasi FMA memberikan efek serangan penyakit layu yang lebih lambat dan dengan persentase serangan yang lebih rendah (± 5%) dibanding dengan perlakuan lainnya. Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat mengatasi sebagian permasalahan yang dihadapi petani dalam pengelolaan tanaman pisang.
Kata kunci : Fungi mikoriza arbuskula, Pisang, Pertumbuhan, Penyakit layu

ABSTRACT. Muas, I. and Jumjunidang. 2010. Arbuscular mycorrhizal fungi for improving and suppressing wilt disease attack in banana plants. In general, the quality and productivity of bananas were produced by Indonesian farmers is still relatively low. Some of the major problems associated with commodity bananas are damaged by pests (OPT) still quite serious, and the application of cultivation technology based on the recommendations that are still lacking. Nutrient management on banana is still rarely done, even if there are not referring to the needs of the plant itself. Wilt disease caused by Fusarium oxysporum f.sp. cubense (Foc) and Ralstonia solanacearum (bacterial wilt) caused devastating losses of bananas. To overcome these problems, various efforts have been many and continue to be done. On this occasion, it will be presented some research results related to application of arbuscular mycorrhizal fungi (AMF), which generally aims to overcome some problems in banana cultivation. Some research activities were conducted in laboratories, greenhouses and farm land. The results of several studies showed that generally can be argued that the application of AMF on banana gives results quite encouraging. Ambon Hijau banana seedlings inoculated with AMF showed significantly higher growth if it was compared with seedlings not inoculated (control). Treatment Bioriza 02 G shows the results of the highest stem height of 17.847 cm, followed by a treatment that is 16.719 cm Glomus fasciculatum, Glomus agregatum (16.662 cm), Acaulospora tuberculata (16.243 cm) and Glomus mosseae (15.481 cm), at the age of 2 months. Almost all treatments showed significantly different results with the control (without AMF). Then, AMF inoculation on banana seedlings multiplied in-vitro culture to improve resistance of seeds against attack R. solanacearum. Banana seedlings without AMF, the intensity of attacks was seen at week two and on the fourth week after inoculation with R. solanacearum attack rates have reached 100%. While the FMA applied on banana seedlings showed no symptoms of attack R. Solanacearum. In addition, the endemic land Fusarium in Tanah Datar district also has done some application of biological agents such as Trichoderma harzanium, Pseudomonas fluorescence (Pf), FMA (Bioriza 02 G) and without biological agents (control). Varieties used were banana cv. buai. The results showed that treatment with the application of AMF to give effect attack wilt disease which is slower and with a lower percentage of attacks (± 5%) compared with other treatments. Implications of this research are expected to overcome some of the problems faced by farmers in the management of banana plants. Keywords: Arbuscular mycorrhizal fungi, Bananas, Growth, ilt disease
Pin It