JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
#gruemenu.grue

Varietas Unggul Baru Durian Tambago Sungai Tarab

Varietas Unggul Baru Durian Tambago  Sungai Tarab

Durian yang dikenal sebagai ‘Raja Buah’ merupakan tanaman buah asli Indonesia dan Kalimantan dianggap sebagai pusat asalnya (Nanthachai 1994; Brown 1997).  Kandungan nutrisi buah durian untuk 100 gr daging buah adalah 128-188 kkl; 21,3-36,1g karbohidrat; 2,0-2,8g protein; 1,2-7,3g lemak; 10,1-13,5g gula; 0,9-4,4g serat; 4,5-41,5 mg kalsium; 0,9-2,0g besi; 0,5-1 mg sodium; 431-601mg kalium; 19,6-65,4 mg fosfor; 1025 RE(IU) vitamin A; 0,24-0,67 mg vitamin B; 22,9-107 mg vitamin C; 1,5 mg vitamin E; 600-1398IUβ-karotin, 10 asam amino  dan 80 senyawa volatile  (Brown, 1997).

Kultur In Vitro Tanaman Nenas Sebagai Sumber Keragaman Genetik

Indonesia adalah salah satu negara biodiversitas, yang berarti bahwa negara kita memiliki sumber keanekaragaman hayati, termasuk keanekaragaman tanaman nenas  yang sangat luas. Setidaknya terdapat 79 aksesi nenas yang tersebar di Indonesia dan dikenal dengan nama lokal yang berbeda-beda, serta lebih dari 200 aksesi hasil hibridisasi. Keragaman hayati nenas merupakan aset negara yang berharga karena potensi pemanfaatannya yang begitu besar, salah satunya adalah dalam perakitan varietas unggul baru.

Selain hibridisasi (persilangan antara tetua untuk menghasilkan hibrida), beberapa cara yang dapat ditempuh dalam program perakitan varietas unggul antara lain melalui introduksi dan domestikasi koleksi plasma nutfah baru, serta manipulasi kromosom. Metode lain dalam program perbaikan tanaman nenas dilakukan melalui kultur in vitro, antara lain dengan teknik mutasi menggunakan paparan radioaktif atau bahan kimia tertentu, rekaya genetik (transfer gen), fusi protoplas, dan metode genome editing.

Kultur in vitro tanaman nenas telah dimulai pada tahun 1977 oleh Wakasa dkk.  yang menggunakan kombinasi dua jenis zat pengatur tumbuh, yaitu NAA (1-Naptheleneacetic acid) dan BA (benzyl amimo purine) pada media MS (Murashige-Skoog). Penelitian tersebut dilakukan untuk menginduksi embrio somatik dari berbagai jenis eksplan nenas, yaitu syncarp, tunas aksilar, slip, dan mahkota. Pada saat yang bersamaan Mathews dan Rangan juga melakukan kultur in vitro nenas dengan menggunakan zat pengatur tumbuh yang berbeda, yaitu beberapa jenis auksin dan kinetin pada media MS untuk menginduksi tunas.

Selanjutnya studi mengenai kultur in vitro nenas banyak dilakukan dengan menggunakan berbagai jenis eksplan dan media untuk memaksimalkan pertumbuhan tunas, baik melalui organogensis maupun somatik embriogenesis.   Penggunaan sistem imersi juga telah banyak dilakukan pada kultur in vitro nenas untuk mengoptimalkan pertumbuhan tunas dan planlet.

Sejak awal penelitian kultur in vitro tanaman nenas, telah ditemukan banyaknya variasi fenotif tanaman yang terjadi setelah tanaman hasil kultur in vitro ditanam di lapang. Lebih lanjut, studi profil genetik tanaman juga mengkonfirmasi adanya keragaman, seperti yang terjadi di lapang. Beberapa faktor penyebab tingginya variasi somaklonal antara lain jalur perbanyakan (organogenesi atau embriogenesis somatik), jenis eksplan, zat pengatur tumbuh, frekuensi sub kultur, dan umur plantlets.

Umumnya keragaman somatik pada nenas tidak terdeteksi pada kondisi in vitro, plantlet in vitro menunjukkan ciri morfologi yang hampir sama. Sebaliknya, keragaman tersebut akan nampak pada saat plantlet hasil kultur in vitro ditanam di lapang, misalnya bentuk batang roset, bentuk buah dan daun yang berbeda-beda.

Contoh tanaman nenas yang diperbanyak secara in vitro.

Keragaman genetik tumbuhan dapat dideteksi salah satunya dengan teknik RAPD-PCR (Rapid Polymorphism DNA – Polymerase Chain Reaction). Perbedaan pola pita DNA yang muncul dari RAPD memperlihatkan adanya perbedaan profil genetik sampel. Hasil RAPD pada nenas kultur in vitro pada gambar berikut memperlihatkan pola band yang berbeda yang artinya menunjukkan profil genetik yang berbeda antara sampel satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut merupakan hal yang penting dalam program pemuliaan  tanaman. Tanaman dengan materi genetik yang berbeda diharapkan dapat memiliki fenotif yang berbeda pula dan lebih baik, misalnya buah yang lebih manis, lebih produktif, lebih tahan penyakit, dan lainnya.

Contoh image gel RAPD-PCR nenas hasil kultur in vitro dengan primer OPA19 yang memperlihakan keragaman genetik plantlet dari jenis dan sumber eksplan yang sama (M: 100 kb marker, 1-12: sampel).

(Sumber: Perez dkk. 2012)

Gambar contoh keragaman pada buah nenas dari tanaman yang diperbanyak secara in vitro. Tanaman Red Spanish adalah tanaman sumber eksplan, sedangkan tanaman P3R5 dan Dwarf merupakan anakan hasil perbanyakan kultur in vitro, a) tanaman pada fase vegetatif, b) bentuk daun, c) bentuk buah.

Sumber: Riry Prihatini
01 Maret 2017

Perbanyakan Benih Nenas Dengan Stek Batang dan Mahkota

Perbanyakan Benih Nenas Dengan Stek Batang dan Mahkota

Benih merupakan salah satu faktor penting dalam budidaya tanaman nenas. Benih yang baik berasal dari tanaman induk yang berkualitas dan terbebas dari hama dan penyakit terutama penyakit sistemik. Pada umumnya, tanaman nenas diperbanyak secara vegetatif, yaitu menggunakan tunas anakan, slip, mahkota, maupun stek batang.

Stek batang dan mahkota baik digunakan untuk perbanyakan klon atau varietas nenas yang memiliki jumlah anakan sedikit, seperti klon Cayenne, Spanish (Hijau dan Merah) yang hanya memiliki tunas anakan berkisar 2 – 3 tunas. Cara ini didasarkan pada pengaktifan pertumbuhan dari mata dorman yang terletak pada batang maupun mahkota. Dengan cara ini akan diperoleh benih yang cukup banyak.

Konservasi In Vitro Jangka Pendek Dan Menengah Tanaman Buah Tropika

Sebagai salah satunya tugas dan fungsinya, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu Tropika) telah melaksanakan kegiatan koleksi dan karakterisasi plasma nutfah tanaman buah tropika. Khusus tanaman pisang, Balitbu Tropika telah memiliki kebun koleksi tanaman pisang yang berisi lebih dari 100 aksesi pisang yang dikumpulkan dari seluruh penjuru nusantara, sedangkan untuk tanaman nenas, Balitbu Tropika memiliki setidaknya 280 aksesi. Semua koleksi plasma nutfah tersebut telah dimanfaatkan dalam program pemuliaan tanaman untuk mendapatkan varietas unggul baru tanaman buah tropika. Namun demikian, koleksi lapang plasma nutfah tumbuhan membutuhkan sumberdaya yang besar dalam pengurusannya, yaitu lahan yang cukup luas, tenaga kerja yang banyak, dan biaya perawatan yang tidak murah. Selain itu, koleksi tanaman di lapang akan rentan terhadap gangguan lingkungan, misalnya cuaca dan serangan hama penyakit, sehingga resiko kehilangan koleksi akan lebih besar.

Salah satu metode alternatif yang dapat diaplikasikan untuk konservasi plasma nutfah tanaman adalah dengan teknik in vitro. Kultur in vitro telah umum diaplikasikan pada bidang pertanian, khususnya untuk perbanyakan tanaman, termasuk tanaman buah. Seiring berjalannya waktu, aplikasi kultur in vitro telah dikembangkan untuk tujuan lain, salah satunya adalah konservasi.

Walaupun konservasi in vitro lebih membutuhkan fasilitas laboratorium serta skill yang lebih tinggi, namun dengan teknik penyimpanan ini, materi tumbuhan akan dapat lebih terjaga. Konservasi in vitro sangat efisien karena tempat dan perlakuan perawatan yang jauh lebih sedikit daripada konservasi ex vitro (lapang). Selain itu, metode konservasi in vitro juga meminimalisir kerusakan koleksi karena pengaruh iklim dan serangan hama serta penyakit tumbuhan.

Konservasi in vitro dapat digolongkan menjadi konservasi jangka panjang, yaitu dengan teknik kryopreservasi dan konservasi jangka pendek-menengah, yaitu dengan teknik enkapsulasi dan pelambatan pertumbuhan. Dibandingkan dengan teknik kryopreservasi, teknik enkapsulasi atau benih sintetik lebih sederhana untuk dilakukan.

Benih sintetik telah dikembangkan pada tanaman Citrus (singh dkk. 2007), Actinidia, Diospyros, Malus, Olea, Prunus, Pyrus, Vitis (Benelli dkk. 2013), dan Brassica napus (Zeynali dkk.  2013).  Pada tanaman pisang, benih sintetik telah dikembangkan di antaranya pada pisang kultivar Basrai (Ganapathi dkk. 1992), Rasthali (Ganapathi dkk. 2001), Grand Naine (Sandoval-Yugar dkk. 2009), dan Kluai Hin (Kanchanapoom & Promsorn 2012). Lebih lanjut, pada tanaman nenas, enkapsulasi telah dikembangkan dengan pengaplikasian teknik butiran alginat sebagai metode penyimpanan jangka pendek dalam program transformasi (Gangopadhyay dkk. 2005). Tunas yang digunakan pada proses enkapsulasi nenas berasal dari eksplan tunas aksilar (Soneji dkk. 2002) maupun tunas apikal (Gamez-Prastana dkk.  2004).

Berikut langkah kerja dalam pelaksanaan enkapsulasi:

  1. Isolasi mata tunas atau embrio somatik tanaman menjadi potongan-potongan kecil
  2. Setelah diisolasi, mata tunas atau potongan embrio somatik selanjutnya dicelupkan berturut-turut  ke dalam larutan coating agent, berupa kalium alginat, natrium alginat, gelatin, agar-agar, atau Gelrite.
  3. Keluarkan mata tunas dari larutan coating agent dengan pipet steril dan masukkan ke dalam larutan kalsium klorida 2%. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kombinasi antara natrium alginat dan kalsium klorida merupakan coating agent terbaik bagi pembentukan benih sintetik.
  4. Selanjutnya, butiran alginat berisi mata tunas disimpan, baik dalam larutan MS0 (Media Murashige-Skoog tanpa zat pengatur tumbuh), akuades steril, atau tanpa larutan di dalam wadah steril, pada suhu rendah (hingga 4 °C).

Proses enkapsulasi akan membuat mata tunas tetap hidup, namun tidak mengalami pertumbuhan. Lebih lanjut, isolat mata tunas tersebut akan dapat tumbuh kembali jika ditanam pada media tertentu. Benih sintetik selanjutnya dapat mempermudah kegiatan pertukaran materi genetik, baik secara nasional maupun internasional.

(Sumber Lambardi et al. 2007)

Gambar tahap enkapsulasi: A. Perendaman mata tunas dalam larutan coating agent, B. Mata tunas dikeluarkan dari larutan coating agent dengan menggunakan pipet steril, C. Mata tunas dimasukkan dalam larutan CaCl 2%, D. Benih sintetik disimpan dalam wadah dan lingkungan steril pada suhu rendah.

(Sumber Kachanapoom & Promsorn 2012)

Gambar contoh benih sintetik sebagai salah satu metode konservasi in vitro jangka pendek dan menengah: a) benih sintetik pisang dan b) benih sintetik yang ditumbuhkan kembali.

Sumber: Riry Prihatini
27 Februari 2017