JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
#gruemenu.grue

Indeks Panen Kulit Buah Naga

Tahukah sahabat buah tropika bahwa buah naga yang kita lihat di pasar swalayan atau pasar tradisional ternyata dipanen dalam kondisi beragam lho.....

Kondisi ini selain berpengaruh pada masa penyimpanan ternyata juga berpengaruh pada rasa daging buah. Umumnya, apabila buah naga untuk dikonsumsi secara langsung, sobat dapat memilih buah naga dengan warna indeks panen (warna kulit) ke 4 atau 5. Buah naga dengan indeks ini memiliki rasa manis optimal namun masa simpan yang relatif singkat. 

Apabila untuk persediaan ataupun pengiriman jarak jauh, sobat dapat memilih kematangan pada indeks ke 1 atau 2. Namun rasa daging buah dengan kematangan pada indeks ini kurag optimal meskipun memiliki daya simpan yang relatif panjang. Umumnya dipakai sebagai bahan baku jus buah naga.

Nah, diantara sahabat mungkin ada yg bertanya-tanya kondisi kulit buah naga manakah yang terbaik untuk disimpan agak lama dengan rasa buah yang tidak terlalu mengecewakan? Ternyata rasa terbaik ada diindeks ke 3. Sobat dapat melihat, bahkan dihari ke 4 setelah dipanen, buahnya merona dengan indah dan bentuk buahnya masih segar.

Petunjuk Teknis Produksi Benih Sebar Petai (secara generatif/biji)

  • PENDEKATAN

            Petai (Parkia speciosa) merupakan tanaman asli Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Philippines (Kamisah et al., 2013), yang sangat populer di masyarakat.   Kandungan gizi dalam 100 g petai diantaranya adalah abu (g) 1,2–4,6, protein (g) 6,0–27,5, lemak (g) 1,6–13,3, karbohidrat (g) 13,2–52,9, serat total (g) 1,7–2,0, energi (kcal) 91,0–441,5, kalsium (mg) 108,0–265,1, besi (mg) 2,2–2,7, fosfor (mg) 115,0, kalium (mg) 341,0, magnesium (mg) 29,0, mangan (ppm) 42,0, tembaga/Cu (ppm) 36,7, seng/Zn (ppm) 8,2, vitamin C (mg) 19,3, 𝛼-tokoferol (mg) 4,15, dan thiamin (mg) 0,28 (Kamisah et al., 2013).  Aroma khas petai ditentukan oleh kandungan sulfur dalam biji petai.  Kandungan sulfur tersebut dapat berupa sistein dan turunannya seperti glutathione, djenkolic acid dan thiazolidine-4-carboxylic acid (Suvachittanont et al., 1996).  Selain dikonsumsi, petai juga berkhasiat sebagai obat diantaranya untuk penyakit diabetes, sakit ginjal, dan kolera (Abdullah et al., 2011).  Petai juga mengandung terpenoid seperti 𝛽-sitosterol, stigmasterol, lupeol, campesterol, dan squaleneLupeol berkasiat sebagai anticarcinogenic, antinociceptive, dan anti-inflammatory (Kamisah et al., 2013). 

Meskipun petai telah banyak dibudidayakan, namun petai banyak diperoleh dari hutan-hutan sebagai tanaman liar.  Konversi hutan menjadi lahan perkebunan (khususnya di pulau Sumatera), industri dan peruntukan lainnya dapat mengancam keanekaragaman petai (Zulhendra et al., 2016).  Berdasarkan hal-hal tersebut maka pengembangan petai penting untuk dilakukan. 

Pada pengembangan petai, perbenihan merupakan langkah awal yang menentukan tingkat keberhasilan budidaya.  Benih merupakan input awal yang sangat menentukan produktifitas dan kualitas hasil buah yang akan dipanen, sehingga ketersediaan benih dan ketepatan varietas (True to type) menjadi hal yang sangat penting.  Ketepatan varietas berkaitan dengan identifikasi tanaman sebelum dilakukan perbanyakan dan penyediaan benih petai. 

Tanaman petai mempunyai sistem penyerbukan terbuka, sehingga terdapat peluang adanya keragaman varietas petai.  Pada perbanyakan benih petai ditentukan oleh tujuan penggunaannya.  Benih petai dari biji (secara generatif) dapat digunakan untuk tujuan konservasi lahan, sehingga ketepatan varietas bukan menjadi hal utama pada perbanyakan benihnya.  Perbanyakan benih secara generatif relatif lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan benih secara vegetatif.  Perbanyakan benih petai untuk tujuan budidaya komersial digunakan perbanyakan benih secara vegetatif (grafting atau okulasi). Hal tersebut karena pada budidaya komersial petai, mutlak diperlukan ketepatan varietas yang akan dibudidayakan.  Pada perbenihan petai APBNP 2017 akan dilaksanakan kegiatan produksi benih sebar dari biji (generatif). 

  • ALUR PRODUKSI BENIH SEBAR DARI BIJI (GENERATIF)

Sesuai tujuan perbanyakan benih sebar yang berasal dari biji, maka posisi benih sebar berada langsung dibawah populasi biji terseleksi berdasarkan keunggulan karakter biji petai.

  • TEKNIK PRODUKSI BENIH SEBAR DARI BIJI (GENERATIF)

a. Penyediaan media persemaian/media tanam
Pada perbanyakan benih sebar ini media persemaian sekaligus merupakan media penanaman.  Penyemaian/penanaman dilakukan langsung pada polibag dengan media tanah dan pupuk kandang (1:1).

Persyaratan
- Tanah yang digunakan merupakan tanah top soil
- Polibag yang digunakan berukuran 20x30 cm.
- Pupuk kandang yang digunakan adalah pupuk kandang masak dengan ciri-ciri : warna hitam, tidak berbau menyengat, kondisi pupuk kandang kering sampai lembab (tidak basah).

Prosedur kerja
- Tanah dan pupuk kandang diaduk rata dengan perbandingan 1 : 1.
- Polibag-polibag diisi dengan media yang telah diaduk.
- Polibag yang telah diisi media disusun di tempat pembimbitan dan lokasi pembibitan harus terkena sinar matahari.
- Media disiram air sampai jenuh, media diusahakan dalam keadaan lembab.
- Media siap digunakan.

b. Pemilihan biji petai (calon benih sebar)
-   Pemilihan biji petai menjadi biji petai terseleksi didasarkan pada keunggulan sifat utama petai, seperti: panjang papan, jumlah biji per papan, dan bobot biji.

c. Prosesing dan penanaman biji
- Biji petai terseleksi dikupas, dicuci dengan air yang mengalir, kemudian direndam dalam larutan fungisida dengan dosis 2-3 g/ liter air selama 5-10 menit.
- Setelah biji direndam dalam larutan fungisida, selanjutnya ditanam pada media tanah : pupuk kandang (1 : 1).
- Penyiraman dilakukan secara merata dan teratur, dan disesuikan dengan kondisi kelembaban media.
- Pada kondisi optimal, benih akan tumbuh 14 hari setelah tanam.

d. Pemeliharaan
- Polibag-polibag berisi benih disusun di bawah naungan paranet 55% dan dilakukan penyiraman sampai cukup
- Penyiraman dilakukan tiap 2 hari sekali, apabila tidak ada hujan.
- Pengendalian gulma dilakukan dengan mencabut secara manual.
- Pengendalian jamur/cendawan dengan cara menyemprot dengan fungisida minimal 1 bulan sekali.
- Pengendalian semut, serangga, ulat dan belalang dengan cara menyemprot insektisida dosis 2-3 cc/ liter air.
- Setelah umur tiga-empat bulan benih siap ditanam sebagai benih sebar.

  • SISTEM PENGENDALIAN MUTU

Pada perbanyakan benih secara generatif/dengan biji, meskipun ketepatan varietas bukan menjadi hal mutlak, namun pemilihan biji berkualitas dapat ditentukan dengan mengamati karakter unggul petai.  Karakter unggul biji petai diantaranya panjang papan, jumlah biji dalam satu papan, dan bobot biji.  Pemilihan populasi biji calon benih petai (populasi terseleksi) ditentukan dari rerata kemiripan sifat unggul biji-biji petai tersebut.  Pemeliharaan standar produksi benih diterapkan untuk menjamin pertumbuhan benih yang optimal.

  • JADWAL PALANG KEGIATAN

Mussidia pectinicornella Hamps, Si Penggerek Buah Petai

Tanaman petai (Parkia speciosa Hassk) merupakan tanaman dari famili Leguminosae yang diketahui mempunyai banyak manfaat kesehatan. Bahkan kulit buahnya juga memiliki banyak manfaat karena memiliki kandungan antioksidan (Aisha et al., 2012) dan polifenol (Ko et al., 2014) serta bahan aktif yang bermanfaat sebagai anti radang lambung (Al Batran et al., 2013) dan anti diabetes (Jamaludin and Mohamed, 1993). Buah petai digemari masyarakat terutama di Asia Tenggara sebagai salah satu jenis sayuran meskipun buah ini memiliki bau khas yang tajam. Memiliki aroma tajam dan menyengat tidak menjadikan buah petai dijauhi oleh hama. Salah satu jenis hama yang cukup mengganggu pada buah petai adalah hama penggerek buah yang dikenal dengan ngengat (Snout Moth) Mussidia pectinicornella Hamps.

M. pectinicornella dilaporkan menyerang berbagai famili tanaman di Asia dan Australia. Disamping menyerang tanaman famili Leguminosae (termasuk petai/Parkia, Bauhinia, jengkol/Pithecellobium, Parkia javanica, Canavalia ensiformis, Crotalaria lunata, Pongamia pinnata, Caesalpinia sappan, Cassia grandis dan Erythrina), hama ini juga menyerang tanaman dari famili Sterculiaceae (Theobroma cacao) dan Sapindaceae (Nephelium ophioides) (HOSTS, 2018).

Hama M. pectinicornella menyerang buah petai ketika masih berbentuk larva. Larva M. pectinicornella berkembang pada biji petai setengah tua sepanjang tahun. Tahap larva berlangsung sekitar 15 hari dan pupa selama 8 hari, meskipun tidak ada telur yang menetas pada pengujian laboratorium, diperkirakan perkembangan hama ini dari fase telur sampai dewasa berkisar selama 28 hari. Betina dewasa tidak dapat bertahan hidup lebih lama dari 1 minggu dan menghasilkan telur sekitar 20 butir saja. Fase pupa dari hama tersebut berlangsung di tanah (Van der Goot, 1940). Ulat ini menyerang polong petai dan jengkol. Panjang badan ngengat ini lebih kurang 13 mm. Telur diletakkan pada polong buah petai. Jumlah telur berkisar 7-20 butir. Setelah menetas, kemudian ulat masuk ke dalam polong. Lubang tidak terlihat dari luar jika tidak diperhatikan dengan seksama karena ukuran lubangnya yang kecil. Ulat membesar di dalam polong panjangnya sekitar 14 mm. Ulat yang telah membesar berwarna ungu suram. Umumnya hanya ada 1 ulat dalam 1 biji. Meskipun sebenarnya tidak mengakibatkan pengaruh negatif namun kita akan merasa jijik untuk memakannya (Pracaya, 1999).

Kerusakan buah akibat serangan hama ini tidak terlihat sampai kulit buah dikelupas. Meskipun demikian kerusakan biji petai yang diakibatkan oleh serangan hama  M. pectinicornella bervariasi hingga mencapai 75% selama musim kering dan berkisar 20-30% pada musim penghujan (Van der Goot, 1940). Persentase serangan hama ini pada polong petai di Malaysia berkisar antara 21,6% hingga lebih dari 82,2% sementara infestasi pada biji petai berkisar antara 1,9% sampai 19,6% (Agboka, 2009). Sementara persentase infestasi larva hama M. pectinicornella pada biji petai yang diamati pada musim penghujan tahun 2017 dari satu aksesi petai asal Kabupaten Solok, Sumatera Barat sebesar kurang dari 10%. Adapun gejala serangan hama penggerek buah M. pectinicornella seperti terlihat pada Gambar 1.

Gambar 1:
Serangan hama penggerek, Mussidia pectinicornella Hamps pada buah petai. Serangan tingkat lanjut dimana terlihat biji petai sudah berlubang cukup besar (a), serangan awal dimana lubang terbuka pada biji belum terlihat jelas namun jika biji dibuka didalamnya ditemui larva hama yang cukup besar (b), kerusakan pada biji petai yang terserang hama penggerek (c), gejala internal pada biji petai yang terserang hama penggerek buah (d).

Pengendalian:

  • Tanah di bawah tajuk pohon dibersihkan dan diusahakan agar tidak digunakan sebagai tempat berkepompong salah satu cara dengan memberikan mulsa jerami padi atau jenis mulsa lainnya seperti metode yang digunakan untuk penanganan burik pada buah manggis (Affandi & Emilda, 2010). Metode ini akan menurunkan populasi hama pada siklus berikutnya.
  • Buah yang telah busuk dibakar, sedangkan yang masih baik di pohon agar segera dipanen agar tidak dimanfaatkan oleh ngengat dewasa sebagai tempat untuk bertelur. Jika perlu dan memungkinkan buah disemprot dengan Azodrin sebelum terlihat ada serangan (Pracaya, 1999).
  • Penyemprotan buah dengan ekstrak tanaman dan minyak atsiri seperti minyak mimba (neem) 5%, minyak jarak (Jatropha curcas) 20% dan ekstrak Hyptis suaveolen 20%. Metode ini menurunkan jumlah telur yang diletakkan hama di buah (bersifat oviposition deterrent) (Agboka, 2009). Namun pelaksanaan pengendalian dengan metode ini sedikit menghadapi kendala mengingat tanaman petai dewasa pada umumnya cukup tinggi.
  • Pengendalian menggunakan musuh alami. Dilaporkan ada 3 parasitoid pada larva hama penggerek buah petai di Malaysia yaitu Bracon , Sphaeripalpus sp. dan Eurytoma sp. (Agboka, 2009).

Sumber: Deni Emilda


 

 

 

Mengenal Tanaman Gandaria (Bouea macrophylla Griffith)

Indonesia yang beriklim tropis mempunyai beragam jenis tanaman buah dan buah yang belum termanfaatkan (underutilized fruit) adalah buah gandaria. Gandaria yang memiliki nama latin Bouea macrophylla Griffith termasuk dalam famili  Anacardiaceae,  satu famili dengan mangga dan jambu mete. Nama gandaria di beberapa daerah dan di beberapa negara  adalah gandaria (Jawa),  jatakegandaria (Sunda),  remieu  (Gayo),  barania (Dayak Ngaju), dandoriah (Minangkabau), wetes (Sulawesi utara) Kalawasa buwa melawe (Bugis), pao gandari  (Madura),  gandaria  (Maluku),  asam djanarkedjauw lepang,  kundang rumania,  ramania hutan, ramania pipitrengastampusu,  tolok burungumpas (Kalimantan), kalawasarapo-rapo kebo (Makasar), ma praang, omprang (Thailand), kundang (malaysia), gandaria (Filipina), marian-plumplum  mango (Ingrris). Tanaman gandaria merupakan tanaman buah tropis yang berasal dari Asia Tenggara dan secara komersial telah ditanam di wilayah ASEAN (Malaysia, Thailand dan Indonesia). Di. Indonesia dapat dijumpai antara lain di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Ambon.

Tinggi tanaman gandaria bisa mencapai 27 m dengan diameter 55 cm. Kanopi tanaman berbentuk kerucut ataupun bundar dengan daun yang lebat sehingga sangat cocok dipakai sebagai tanaman peneduh.  Daun berbentuk lanset sampai elip, daun berukuran besar dengan panjang daun 13-35 cm dan lebar 5-7 cm. Buah berwarna hijau pada saat muda dan  kuning oranye  ketika matang, dan rasa dari asam sampai manis. Panjang buah 3-6 cm dengan lebar 3-4 cm. Biji berukuran diameter  2-5 cm dengan kotiledon berwarna ungu terang. Tanaman jika ditanam dari biji akan mulai berbuah pada umur 6-8 tahun, sementara jika dari sambungan akan berbuah 4-5 tahun kemudian. Secara alami tanaman gandaria tumbuh sampai ketinggian  300 m dpl. Pertumbuhan terbaik adalah pada tanah dengan drainase yang baik.

Buah muda biasanya dipakai sebagai sambal,  rujak atau asinan, daun muda dipakai sebagai lalapan, sementara buah matang dapat langsung dimakan dengan mengelupas kulitnya atau dipakai sebagai manisan ataupun jus dengan rasa asam manis  sangat menyegarkan. Potensi lain adalah sebagai bahan sirup dan selai.

Kandungan nutrisi dari buah gandaria dapat dilihat Tabel di bawah ini.  Kandungan vitamin C buah gandaria cukup tinggi sehingga sangat bermanfaat bagi kesehatan, salah satunya adalah sebagai antioksidan. Antioksidan bertugas untuk menangkal atau menghilangkan zat-zat radikal bebas yang ada pada kulit. Radikal bebas dapat berasal dari tubuh sebagai hasil dari metabolisme,  dan dari luar tubuh seperti asap rokok, paparan sinar ultra violet,  makanan yang memiliki kandungan toksin dan polusi udara. Selain itu, vitamin C  berperan membantu dalam menghambat sel-sel yang menyebabkan penuaan dini.

Nutrisi buah gandaria per 100 gram :

Air

Protein

Lemak

karbohidrat

Serat

Niacin

Vitamin C

Calcium

Fosfor

Zat besi

Beta karotin

Thiamine

Riboflavin

86,6 g

40 mg

20 mg

11,3 g

150 mg

0,5 mg

100 mg

9 mg

4 mg

0,3 mg

23 mg

0,11 mg

0,05 mg

Sumber : Divisi Nutrisi dari Departemen Kesehatan Thailand

Mengingat kandungan nutrisi dari buah gandaria yang cukup lengkap maka perlu adanya usaha untuk  mendorong masyarakat Indonesia untuk  mulai membudidayakan tanaman  gandaria sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.

Macam - macam bentuk olahan dan buah segarnya. 

 Naskah dan foto : NLP Indiyani