JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
#gruemenu.grue

Manggis Unik Dari Tembilahan

Manggis merupakan buah yang sering digunakan untuk taruhan dengan menebak jumlah segmen buahnya. Jumlah segmen buah ini ditentukan oleh jumlah cuping pada cupatnya (stigma lobe). Segmen buah yang sedikit (kurang dari 5 buah) atau yang lebih dari 8 buah biasanya memberi peluang yang sangat besar untuk memenangkan taruhan karena sangat jarang ditemukan. Menggunakan manggis Tembilahan akan mempunyai peluang yang cukup besar untuk memenangkan taruhan karena salah satu keunikan dari manggis ini adalah jumlah segmen buahnya yang cukup banyak dan bisa mencapai 11 buah. Padahal pada umunya manggis hanya mempunyai 5 sampai 8 segmen buah.


Manggis unik ini diperoleh dari hasil lomba buah yang diadakan oleh Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) mulai bulan Oktober sampai Desember 2003 yang lalu. Daerah asal manggis ini adalah Desa Pulau Palas, Kecamatan Tembilahan Hulu, Kabupaten Indragiri Hilir-Propinsi Riau, dengan ketinggian tempat sekitar 16 meter diatas permukaan laut. Pohonnya berumur lebih dari 50 tahun dengan jumlah yang cukup banyak, tumbuh di pekarangan penduduk dan biasa disebut sebagai manggis Lokal Tembilahan. Informasi ini menambah bukti tentang adanya keragaman jenis buah manggis. 

Varietas Unggul Pisang

Ketan 01

Keunggulan spesifik

Perawakan tanaman ramping dan pendek, umur genjah, jumlah anakan 3-5 batang mampu berbunga dan masak serempak. Karakter-karakter itu menjamin produktivitas yang tinggi dengan jarak tanam rapat.
Buah enak dikonsumsi segar maupun olahan. Apabila digoreng atau bentuk olahan lainnya, daging terasa pulen agak lengket mirip nasi ketan. Karakter ini pula yang membuat buah pisang varietas Ketan ini dapat dijadikan bahan baku nasi goreng pisang.

Diskripsi

Umur berbuah 6 bulan, umur panen 3 bulan setelah bunga. Kadar gula 24%, kadar tepung 86,5, vitamin C (mg/ 100 g) 5 dan kadar air 59%. Citarasa sangat enak. Daya simpan 15 hari.

 

 

 

 

 

Raja Siem

Keunggulan spesifik

ImagePerawakan tanaman tanaman ramping, berumur genjah, jumlah anakan banyak, kadar tepung tinggi dan kandungan vitamin A serta kalori yang lebih tinggi daripada kepok lain. Varietas ini potensial untuk dijadikan sebagai bahan baku tepung pisang.

Diskripsi

Umur berbuah 278 hari setelah tanam, umur panen 117 hari setelah bunga. Jumlah buahper tandan 112, jumlah per sisir 14-16, bobot sisir 11,5 kg. Kadar gula 27%, tekstur daging berserat. Kalori (kal/100 g) 120,5, kadar tepung 79,8 g, vitamin C (mg/100 g) 5,1, vitamin A (SI) 712. Citarasa manis, daya simpan 15 hari.

 

 

Kepok Tanjung

Keunggulan spesifik

Varietas Kepok Tanpa Jantung ini dilepas 2007 dengan nama Kepok Tanjung, sebagai kependekan dari tanpa jantung. Sudah dapat diterka, salah satu keunggulannya adalah tidak mempunyai jantung. Dengan demikian tidak diperlukan lagi pekerjaan membuang jantung seperti pada tanaman pisang pada umumnya dalam rangka mencegah penularan penyakit layu bakteri secara alami yang disebarkan oleh serangga. Selain itu, tidak seperti pisang kapok lainnya yang terasa asam, varietas ini manis dengan kandungan total padatan terlarut (TSS) sebesar 2930% Brix. Inilah, salah satu bukti, bahwa Indonesia adalah negara mega diversity untuk buah-buahan tropika. Varietas Kepok Tanjung berasal dari Pulau Seram, tepatnya di Desa Makariki, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah.

Diskripsi

Bobot buah pertandan 15-25 kg, jumlah sisir per tandan -17, jumlah buah per sisir 13-18, jumlah buah per tandan 150-250, panjang buah 10-17 cm, diameter buah 3,0-5,0 cm, warna kulit buah matang kuning, warna daging buah matang kuning orange, tekstur buah kenyal, bobot satu buah 125-170 g, cita rasa daging buah manis (pisang olah), daya simpan pada suhu kamar 15-21hari, dan potensi hasil per ha/tahun 20-30 ton.

 

 

Raja Kinalun

Keunggulan spesifik

Varietas pisang Raja Kinalun, yang baru dilepas 2007, mempunyai keunggulan spesifik lebih tahan terhadap penyakit layu bakteri dan fusarium. Dengan demikian, jika Anda tidak atau lupa memotong jantung pisang ini, tidak beresiko terlalu tinggi terinfeksi penyakit layu bakteri maupun fusarium. Daya simpan cukup lama (24 hari) dan potensial sebagai bahan baku industri tepung pisang.

Diskripsi

Bobot buah pertandan 12-18 kg, jumlah sisir per tandan 8-9, jumlah buah per sisir 12-14, jumlah buah per tandan 100-105, panjang buah 10-14 cm, diameter buah 3,5-4,5 cm, tekstur buah kenyal, bobot satu buah 95-120 g, cita rasa daging buah manis (pisang olah), TSS 23,5-24,0oBrix, dan potensi hasil per ha/tahun 15-20 ton.


MANGGA VARIETAS KOMERSIAL MAMPU TUMBUH BAIK DI WILAYAH RENDAH BASAH

Wilayah rendah basah memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai alternatif pengembangan sentra produksi mangga. Beberapa varietas komersial mangga telah terbukti mampu tumbuh dan berbuah dengan baik di wilayah ini. 

Mangga (Mangifera sp.) memiliki banyak jenis di mana masing-masing jenis tersebut menghendaki persyaratan agroklimat yang berbeda untuk dapat tumbuh secara optimal. Sebagai contoh Arumanis, Gadung, Golek, Manalagi hanya cocok dikembangkan di wilayah rendah kering, namun sebaliknya varietas Gedong gincu, Cengkir/ Indramayu, Sala, Bengkulu cocok tumbuh dan berkembang baik di wilayah beriklim basah.

Sampai saat ini produksi total mangga di Indonesia terutama masih disuplai dari wilayah sentra produksi beriklim kering, terutama dari Jawa Timur. Mengingat adanya beberapa masalah yang harus diatasi sehubungan dengan peningkatan produksi mangga dan tuntutan preferensi konsumen, maka strategi pengembangan mangga juga harus diarahkan ke wilayah lain yang secara agronomis cocok untuk budidaya mangga. 
Permasalahan tersebut di antaranya adalah (1) adanya konversi lahan dari pertanian
menjadi perumahan dan industri sehingga menyebabkan luas pertanaman mangga di wilayah sentra menjadi berkurang, (2) adanya perubahan orientasi konsumen yang saat ini meminta produk buah mangga dengan warna kulit kemerahan dan (3) kebutuhan produksi mangga di luar musim. Untuk menjawab permasalahan mengenai penyusutan lahan pertanian dan keinginan menghasilkan buah mangga di luar musim, alternatif jalan keluarnya melakukan diversifikasi pengembangan sentra produksi mangga di wilayah lain yang secara agronomis dalam katagori cocok, terutama di luar Jawa.

Khusus untuk pembuahan di luar musim, penggunaan zat perangsang tumbuh tidak dianjurkan lagi mengingat dampak produksi baru yang memiliki karakteristik lingkungan berbeda sehingga menyebabkan musim panen juga berbeda. 
Terkait dengan program pengembangan wilayah sentra produksi mangga baru maka pada tahun 2004 Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu Tropika) mulai merancang suatu aktivitas penelitian yang bertujuan untuk mengevaluasi pertumbuhan 6 varietas tanaman mangga komersial, termasuk mangga dengan warna kulit buah kemerahan di wilayah rendah basah.Varietas yang ditanam adalah Gedong gincu, Marifta, Manalagi Kraksan, Indramayu, Sala dan Bakari Sisik masing-masing berjumlah 30 tanaman. 
Bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung, penelitian yang berbentuk /visitor plot dilakukan di Kebun Percobaan Natar dengan pertimbangan lokasi ini mewakili wilayah rendah basah. Teknologi yang diterapkan adalah menerapkan teknologi budidaya secara optimal, pembentukan profil tanaman melalui pemangkasan sehingga terbentuk tipe percabangan 3-9-27, dan paket teknologi pengendalian hama penggerek batang mangga meliputi monitoring, pemangkasan dan aplikasi pestisida hanya pada saat fase tunas saja.
Hasil penerapan paket teknologi tersebut mulai terlihat pada tahun 2007, di mana tanaman mangga telah menunjukkan pertumbuhan yang baik dan mulai berproduksi. Semua varietas yang ditanam telah menghasilkan buah dengan kualitas yang optimal. Serangan hama penggerek batang, yang merupakan kendala utama pada budidaya mangga di wilayah rendah basah, dapat dikendalikan sehingga semua tanaman mangga menunjukkan profil pertumbuhan optimal. Sebagai informasi tambahan, saat tulisan ini dibuat tanaman mangga di KP. Natar sedang berbunga sehingga diharapkan pada bulan November 2009 sudah mulai bisa dipanen.

Dengan terbuktinya tanaman mangga dapat tumbuh baik dan berbuah terutama mangga yang memiliki karakter buah berkulit kemerahan tersebut, maka pada tahun 2008 ini Balitbu Tropika bekerja sama dengan BPTP Lampung menambah koleksi tanaman mangga di KP Natar. Varietas mangga yang ditanam adalah mangga dengan kulit buah berwarna merah (Khrisapati Malda), Duren, dan Gayam. 

Selain itu, juga ditanam 10 aksesi mangga hasil silangan induk Arumanis-143 dengan mangga berkulit merah yang bertujuan untuk mendapatkan mangga Arumanis dengan karakter kulit kemerahan. Jumlah total tambahan tanaman mangga yang ditanam pada tahun 2008 sebanyak 120 tanaman.
(Sumber : Mizu Istianto, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika)



Pengendalian Hama Penggerek Batang Mangga

PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK BATANG MANGGA

Hama penggerek batang merupakan salah satu permasalahan utama dalam budidaya mangga terutama di daerah rendah basah.  Akibat serangan hama ini dapat menyebabkan ranting atau cabang hingga batang utama mangga mengalami kematian.  Sampai saat ini, belum diperoleh teknologi pengendaliannya.  Sampai tahun 2007 telah diperoleh beberapa informasi :
1.  Hama penggerek batang mangga tersebar di semua lokasi penelitian (Sumatera Barat dan Sumatera Utara).  Dari semua varietas mangga yang diamati, tidak satu varietas pun yang terhindar/tahan dari serangan hama ini.
2. Ditemukan dua jenis musuh alami hama penggerek batang mangga, satu dari golongan pathogen (bakteri) dan satu dari golongan parasitoid (Gregarius ectoparasit) dari larva golongan Coleoptera.
3. Dua jenis penggerek batang mangga yang umum ditemukan di Sumatera Barat dan Sumatera Utara  adalah Rhytidodera sp dan Palimna annulata.

Strategi pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan menerapkan beberapa teknik pengendalian, yaitu (1) melakukan monitoring fenologi pertumbuhan mangga dengan Strategi pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan menerapkan beberapa teknik pengendalian, yaitu (1) melakukan monitoring fenologi pertumbuhan mangga dengan tujuan mengetahui fase kritis mulai adanya serangan, yaitu saat fase tunas, (2) aplikasi insektisida berbahan aktif imidakloprid pada saat fase kritis (tunas) dengan interval 1 minggu, (3) bila ada serangan dengan ditandai oleh adanya lubang pada ranting/cabang dapat dilakukan pengendalian tahap pertama menggunakan agen hayati berupa bakteri Serratia marcescens, (4) bila serangan masih berlanjut ditandai dengan adanya kotoran yang keluar dari lubang maka dilakukan pemangkasan sampai sekitar 10 cm di bawah bekas gerekan terbaru tanpa menunggu bagian tanaman tersebut kering.