JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

PENGEMBANGAN MARKA SNAP BERBASIS RESISTANCE GENE ANALOGUE PADA TANAMAN PISANG (MUSA SPP.) (DEVELOPMENT OF SNAP MARKER BASED ON RESISTANCE GENE ANALOGUE GENIMIC SEQUENCES IN BANANA (MUSA SPP.))

Sutanto A, Hermanto C, Sukma D dan Sudarsono
Balai Penelitian Tanaman Buah
Jl. Raya Solok – Aripan Km. 8, Solok 27301, Indonesia

Abstrak.
Sutanto A, Hermanto C, Sukma D dan Sudarsono. 2013. Pengembangan Marka SNAP Berbasis Resistance Gene Analogue Pada Tanaman Pisang (Musa spp.) (Development of SNAP Marker Based On Resistance Gene Analogue Genimic Sequences in Banana (Musa spp.)) Pengembangan kultivar pisang tahan penyakit secara konvensional menghadapi kendala utama, yaitu lamanya waktu yang diperlukan untuk seleksi dan evaluasi tanaman hasil hasil persilangan. Oleh karena itu dilakukan pendekatan bioteknologi melaui pengembangan marka molekuler untuk mempercepat capaian program pemuliaan. Tujuan penelitian ialah mengembangkan marka SNAP untuk seleksi tanaman pisang terhadap penyakit berdasrkan substitusi basa nukleotida atau single nucleotide polymorphism (SNP) pada fragmen resistance gene analogue (RGA) asal tanaman pisang (MNBS). Kegiatan penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biologi Molekular Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, mulai bulan Juli sampai November 2012. Penelitian menggunakan sembilan sekuen MNBS yang terdeposit pada bank data NCBI untuk mendisain primer SNAP yang diperlukan. Dari 30 posisi SNP yang ada pada fragmen MNBS, terdapat 19 posisi SNP yang menyebabkan perubahan asam amino yang disandikan. Delapan posisi SNP diantaranya dapat digunaka untuk pengembangan marka SNAP. Dengan menggunakan perangkat lunak WebSNAPER, primer SNAP berhasil didisain dari delapan posisi SNP. Namun satu posisi SNP menghasilkan seperangkat primer yang tidak layak pakai. Dari 64 alternatif primer SNAP yang dihasilkan berhasil dipilih 14 pasang primer SNAP. Sepuluh dari 14 pasang primer terpilih, dihasilkan dari posisi SNP1, SNP2, SNP4,SNP5, dan SNP6. Sepuluh pasang primer SNAP terpilih juga telah diuji dan berhasil mengamplifikasi marka SNAP menggunakan DNA genom pisang cv. Klutuk Wulung dan Barangan. Sepuluh pasang primer SNAP tersebut berpotensi untuk digunakan sebagai marka ketahanan terhadap penyakit pada tanaman pisang secara umum.

Katakunci: Marka molekuler; SNP; SNAP; Ketahanan penyakit; Musa spp.

Sutanto A, Hermanto C, Sukma D dan Sudarsono. 2013. Pengembangan Marka SNAP Berbasis Resistance Gene Analogue Pada Tanaman Pisang (Musa spp.) (Development of SNAP Marker Based On Resistance Gene Analogue Genimic Sequences in Banana (Musa spp.)). J. Hortikultura. 23(4) : 300309.

12 Nopember 2015


 

 

UJI STABILITAS LIMA GENOTIP PEPAYA DI TIGA LOKASI
( STABILITY TEST OF FIVE PAPAYA GENOTYPES ON THREE LOCATIONS)
SUNYOTO, BUDIYANTI T, NOFLINDAWATI, FATRIA D

Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika
Jl. Raya Solok-Aripan Km.8, Solok 27301

Abstrak.
Sunyoto, Budiyanti T, Noflindawati, Fatria D. 2013. Uji Stabilitas Lima Genotip Pepaya di Tiga Lokasi ( Stability Test of Five Papaya Genotypes on Three Locations).
Pengujian interaksi antara genotip dengan lingkungan (GxE) serta analisis stabilitas hasil suatu genotip merupakan tahap penting dalam program pemuliaan tanaman untuk mendapatkan calon varietas unggul baru. Penelitian bertujuan menguji stabilitas dan adaptasi empat genotip pepaya dan satu pembanding. Penelitian dilakukan di tiga lokasi yaitu, KP. Sumani, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Lubuk Alung, Sumatera Barat, dan KP. Subang, Jawa Barat, mulai Bulan Maret sampai Desember 2010 menggunakan rancangan acak kelompok. Perlakuan terdiri atas lima genotip pepaya, yaitu Merah Delima, BT-2, Carmina, Carmida, dan California dengan enam ulangan. Peubah yang diamati ialah persentase tanaman sempurna dan betina, tinggi bunga pertama, ruas letak bunga pertama, tinggi buah pertama, bobot buah, jumlah buah/pohon, produksi buah/pohon, dan padatan terlarut total (PTT) (Brix). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase tanaman berbunga sempurna dan berbunga betina pada genotip Merah Delima, BT-2, Carmina,dan Carmida mempunyai nilai koefisien regresi (<1, berarti tahan terhadap perubahan lingkungan. Pengujian terhadap tinggi bunga pertama dan ruas letak bunga pertama memperlihatkan bahwa BT-2 dan California mempunyai koefisien regresi (<1 (tidak responsif terhadap perubahan lingkungan). Interaksi varietas (genotip) dengan lokasi (lingkungan) terjadi pada karakter persentase tanaman berbunga sempurna, persentase tanaman berbunga betina, ruas letak bunga pertama, tinggi bunga pertama, bobot buah, produksi/pohon, dan PPT. Produksi/pohon Merah Delima dan Carmida mempunyai nilai koefisien regresi (dan genotip memiliki rerata hasil diatas rerata umum yang berarti genotip tersebut beradaptasi baik terhadap semua lingkungan. Kedua genotip tersebut sangat potensial untuk dikembangkan di beberapa lingkungan karena beradaptasi baik pada tiga kondisi lingkungan dengan hasil di atas rerata. Oleh karena itu dapat direkomendasikan menjadi VUB yang dapat dikembangkan di lahan petani.

Katakunci: Pepaya; Stabilitas; Adaptabilitas; Pertumbuhan; Hasil

Sunyoto, Budiyanti T, Noflindawati, Fatria D. 2013. Uji Stabilitas Lima Genotip Pepaya di Tiga Lokasi ( Stability Test of Five Papaya Genotypes on Three Locations). J. Hortikultura. 23(2): 129-136.

12 Nopember 2015