JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Publikasi

Riry Prihatini, Tri Budiyanti, and Noflindawati
Indonesian Tropical Fruit Research Institute
Jalan Raya Solok-Aripan km 8, Solok 27301, West Sumatera, Indonesia
Phone: +62 75520137; Fax: +62 75520592
* Correspondence author:  Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Submitted 9 October 2018 ; Revised 21 Januari 2019 ; Accepted 11 May 2019
 
ABSTRACT
Diverse papaya (Carica sp.) accessions are found in many regions in Indonesia, but their genetic diversity have not yet been studied. Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) is a simple yet accurate method that can be used to examine the genetic diversity of papaya. The study aimed to examine the genetic diversity of Indonesian papaya accessions using RAPD markers and morphological characters. The RAPD was applied on 23 papaya accessions using 30 primers. The appearing bands were further analyzed with the Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean (UPGMA) and Principal Component Analysis (PCA). The molecular results were then compared to the fruit morphological data, including fruit shape, size, flesh color, texture, and flavor. The RAPD analysis revealed that the 23 papaya accessions clustered into six main clades with Dice-Sorensen coefficient similarity ranged from
0.71 to 0.98. The first group consisted of 11 accessions, including both the hybrids and local accessions. The second group consisted of eight accessions especially six Indonesian hybrids, a Mexican Hybrid and a Hawaiian hybrid. The other four groups had a single member namely Sicincin Panjang, Lokal Sumani, Cariso, and Carica. The molecular grouping, however, did not align with the fruit character grouping. Overall, it was implied that the Indonesian papaya accessions were genetically narrow, of which some accessions were closely related to Hawaiian and Mexican accessions. These results can be used as a reference on papaya crossbreeding program in Indonesia.

[Keywords: Carica sp., genetic  diversity, morphological characters,
PCA, RAPD]

Fulltext

Riry Prihatini dan Sri Hadiati
Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Jln. Raya Solok-Aripan km.8, Solok, Sumatera Barat, Indonesia 27301
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Diterima: 24 Agustus 2018; direvisi: 14 Desember 2018; disetujui: 12 April 2019

ABSTRAK. Konservasi in vitro tanaman nenas dilakukan untuk penyimpanan materi genetik sebelum dimanfaatkan. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengembangkan teknik enkapsulasi yang dapat memperpanjang daya simpan benih sintetik nenas melalui perlakuan konsentrasi natrium alginat, suhu, dan media penyimpanan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, mulai Januari hingga Desember 2017. Bahan yang digunakan adalah plantlet nenas aksesi
5X18(10). Penelitian dibagi menjadi dua subkegiatan. Metode yang digunakan pada subkegiatan pertama yaitu tunas mikro nenas dienkapulasi dengan metode tetes menggunakan natrium alginat 3% dan 4% serta penyimpanan dalam akuades steril dan tanpa media selama 30, 60, 120, dan 240 hari pada suhu 25oC. Penggunaan 4% natrium alginat dan media akuades steril dapat memperpanjang masa simpan benih sintetik nenas hingga 240 hari dengan daya regenerasi benih 100%. Pada subkegiatan kedua, perlakuan terbaik pada subkegiatan pertama dilanjutkan dengan perlakuan suhu penyimpanan 4oC. Benih sintetik nenas pada suhu penyimpanan tersebut hanya mampu bertahan hingga 60 hari, selebihnya tunas dalam benih menghitam dan tidak dapat ditumbuhkan kembali. Metode enkapsulasi untuk penyimpanan materi genetik yang dikembangkan dalam penelitian ini lebih sederhana dan efisien serta dapat diaplikasikan pada kegiatan konservasi in vitro jangka menengah tanaman nenas.
Kata kunci: Enkapsulasi; Konservasi; In vitro; Tanaman nenas

Fulltext