JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
PEMANFAATAN CENDAWAN Fusarium oxysporum ENDOFIT INDIGENUS PISANG
SEBAGAI AGENSIA HAYATI DALAM PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU FUSARIUM PADA PISANG

Riska dan Jumjunidang
Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika
Jl. Raya Solok-Aripan Km 8 Solok Sumatera Barat 27301

Pengendalian dengan menggunakan agensia hayati merupakan salah satu metode yang disarankan untuk mengendalikan penyakit pada tanaman. Sejumlah cendawan endofit berpotensi dalam menekan perkembangan penyakit. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kemampuan dan mendapatkan cendawan Fusarium oxysporum (Fo) endofit indigenus tanaman pisang dalam mengendalikan penyakit layu Fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) pada pisang. Penelitian dilaksanakan di laboratorium Penyakit Tumbuhan dan Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu Tropika) Solok, dari bulan November 2009 sampai Februari 2010. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 6 perlakuan 4 ulangan, masing-masing perlakuan terdiri dari 5 unit tanaman. Perlakuan yang diuji adalah Fo endofit indigenus pisang dari kelompok Fusarium oxysporum yang diisolasi dari daerah dan varietas pisang yang berbeda sebagai berikut: A) Fo Asal Solok yang diisolasi dari stele akar varietas pisang Udang, B) Fo Asal Dharmasraya yang diisolasi dari stele akar pisang Liar, C) Fo Asal Tanah Datar yang diisolasi dari korteks bonggol varietas pisang Ambon hijau, D) Fo Asal Agam yang diisolasi dari korteks bonggol varietas pisang Kepok dan E) Fo Asal Agam yang diisolasi dari stele akar varietas pisang Kepok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Semua cendawan Fo endofit indigenus pisang yang diaplikasikan pada bibit pisang Ambon hijau mampu menunda atau memperpanjang masa inkubasi penyakit layu yang disebabkan Foc VCG 01213/16, masa inkubasi yang paling lama adalah bibit yang diaplikasi dengan Fo asal Agam yang diisolasi dari stele akar varietas pisang Kepok yaitu 51,47 hari, dan masa inkubasi yang paling cepat adalah pada tanaman kontrol yaitu 24,36 hari. Semua cendawan Fo endofit indigenus pisang yang diaplikasikan pada bibit belum mampu mengurangi persentase tanaman pisang terserang Foc VCG 01213/16. Untuk semua perlakuan, persentase serangan penyakit yang muncul berkisar antara 60-85%. Fo asal Agam yang diisolasi dari stele akar varietas pisang Kepok, Fo asal Solok yang diisolasi dari stele akar varietas pisang Udang, Fo asal Tanah Datar diisolasi dari korteks bonggol varietas pisang Ambon hijau merupakan yang paling baik dalam mengurangi keparahan penyakit pada daun dan bonggol yang disebabkan Foc VCG 01213/16 pada pisang.
Kata kunci: Musa sp.; Fusarium oxysporum f.sp. cubense; Cendawan endofit; Pengendalian

ABSTRACT. Riska and Jumjunidang. 2010. Utilization of endophytic microbes from indigenous banana plants as biocontrol agents in controlling Fusarium wilt on banana. Biological control is most important technigue to control several diseases in crop. A number of endophytic fungi are known potential in suppressing the development of Fusarium wilt disease. The purpose of this study is to know the ability and get Fusarium oxysporum endophytic indigenus banana to control Fusarium wilt disease caused by Fusarium oxysporum f. sp cubense (Foc) on banana. Research was conducted in the laboratory and Plant Pathology Screen House Indonesian Tropical Fruit Research Institute (ITFRI) Solok, from November 2009 to February 2010. The design used was randomized block design with 6 treatments 4 replications, each treatment units of the plant.The treatments tested Fo indigenus banana endophytic from Fusarium oxysporum isolated from different regions and banana varieties as follows: 1). A: Fo from Solok was isolated from stele of Udang roots, 2) B: Fo from Dharmasraya was isolated from stele of wild banana roots, 3) C: Fo from Tanah Datar isolated from cortex of Ambon hijau corm, 4) D: Fo from Agam isolated from cortex of Kepok corm and 5) E: Fo from Agam isolated from stele kepok roots. The results showed that all indigenus banana endophytic fungi clustered in Fo were applied to Ambon Hijau seedlings are able to delay or prolong the incubation period wilt disease caused by Foc VCG 01213/16, the longest incubation period are seedling were applied with Fo from Agam, it was isolated from roots of kepok ie 51.47 days, and fastest of the incubation period are in control is 24.36 days. All indigenus banana endophytic fungi Fo were applied to the seedlings has not been able to reduce the percentage of infected plants by Foc VCG 01213/16. For all treatments, percentage of wilt appears with ranges from 60-85%. Fo from Agam was isolated from the stele of kepok roots, Fo from Solok was isolated from the stele of udang roots, Fo from Tanah Datar was isolated from the cortex of Ambon hijau roots are the best of endophyte fungi to reduce the disease severity on leaves and corms was caused by Foc VCG 01213/16 on Ambon hijau.
Keywords: Musa sp.; Fusarium oxysporum f. sp. cubense; Endophytic microbes; Control
PENGARUH TINGKAT KEMATANGAN DAN LAMA PENYIMPANAN
TERHADAP MUTU BUAH MARKISA ASAM UNGU SAMBUNG PUCUK
(Passiflora edulis f. edulis Sims)

Marpaung, A.E. dan F.H. Silalahi
Kebun Percobaan Tanaman Buah Berastagi
Jl. Raya Medan-Berastagi Km. 60 Berastagi, 22156

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat kematangan dan lama penyimpanan terhadap mutu buah markisa. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari 2007 sampai Februari 2007 di laboratorium pasca panen KP-Berastagi. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Acak Lengkap (RAL) faktorial, dengan 3 kali ulangan, masing-masing perlakuan terdiri dari 30 buah. Perlakuan yang diteliti adalah, faktor I adalah Tingkat kematanagan : W1. Matang 50%, W2. Matang 75% dan W3. Matang 100%. Faktor II adalah Lama penyimpanan : L0 = 0 hari, L1 = 7 hari, L2 = 14 hari dan L3 = 21 hari. Masing-masing perlakuan terdiri 30 buah dan yang diuji sebanyak 15 buah. Hasil yang diperoleh adalah : Mutu buah markisa (bobot buah, bobot sari buah, TSS dan total asam mengalami penurunan selama penyimpanan pada semua tingkat kematangan buah. Penurunan bobot buah tertinggi dijumpai pada lama penyimpanan 21 hari (W1 = 32,39%; W2 = 29,94% dan W3 = 30,21%) dan terendah pada lama penyimpanan 7 hari (W1 = 5,68%; W2 = 9,27% dan W3 = 15,41%). Penurunan bobot sari buah tertinggi dijumpai pada lama penyimpanan 21 hari (W1 = 27,91%; W2 = 26,31% dan W3 = 21,98%) dan terendah pada lama penyimpanan 7 hari (W1 = 4,97%; W2 = 7,29% dan W3 = 9,50%. Penurunan TSS tertinggi dijumpai pada lama penyimpanan 21 hari (W1 = 18,57%; W2 = 21,77% dan W3 = 25,16%) dan terendah pada lama penyimpanan 7 hari (W1 = -0,42%; W2 = -5,42% dan W3 = 19,60%. Penurunan total asam tertinggi dijumpai pada lama penyimpanan 21 hari (W1 = 51,55%; W2 = 21,77% dan W3 = 52,52%) dan terendah pada lama penyimpanan 7 hari (W1 = 32,20%; W2 = 23,24% dan W3 = 38,77%. Tingkat kematangan buah markisa untuk panen disarankan adalah matang 75% (W2) dan sebaiknya disimpan dengan lama penyimpanan 7 hari pada suhu kamar (L1).
Kata kunci : Passiflora edulis f. edulis; Tingkat kematangan; Lama penyimpanan

ABSTRACT. Marpaung, A.E. dan F.H. Silalahi. 2010. The Effect of Fruit Maturity Level and Storage Duration on quality of Purple Passion Fruit Shoot Grafting. The research aimed to find out effect of fruit maturity and storage duration on quality of purple passion fruit. The research was conducted at Berastagi Experimental Fruit Farm on January to February 2007 in post harvest laboratory. Randomize Complete Design was used with three replications. The first factor is fruit maturity level (W) with three treatments (W1=50%, W2=75% and W3=100%), the second factor is storage duration (L) with four treatments (L0=0 day, L1=7 dys, L2=14 days and L3=21 days). Each treatment consists of 30 fruits and 15 fruits will be testing. The results showed that, Passion fruit quality (weight fruit, weight of fruit juice, total soluble solid and total acid has decrease as long storage on the all fruit maturity level. The highest of weight fruit decrease was indicated on the 21 days storage (W1 = 32,39%; W2 = 29,94% and W3 = 30,21%) and the lowest on the 7 days storage (W1 = 5,68%; W2 = 9,27% and W3 = 15,41%). The highest weight of fruit juice decrease was indicated on the 21 days storage (W1 = 27,91%; W2 = 26,31% and W3 = 21,98%) and the lowest on the 7 days storage (W1 = 4,97%; W2 = 7,29% and W3 = 9,50%. The highest of total soluble solid decrease was indicated on the 21 days storage (W1 = 18,57%; W2 = 21,77% and W3 = 25,16%) and the lowest on the 7 days storage (W1 = -0,42%; W2 = -5,42% and W3 = 19,60%. The highest of total acid decrease was indicated on the 21 days storage (W1 = 51,55%; W2 = 21,77% and W3 = 52,52%) and the lowest on the 7 days storage (W1 = 32,20%; W2 = 23,24% and W3 = 38,77%. The fruit maturity level of passion fruit harvest is maturity 75% (W2) and the good storage as long 7 days on the room condition temperature (L1).
Keywords : Passiflora edulis f. edulis; Fruit maturity level; Storage duration