JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Petunjuk Teknis Produksi Benih Sebar Petai (secara generatif/biji)

  • PENDEKATAN

            Petai (Parkia speciosa) merupakan tanaman asli Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Philippines (Kamisah et al., 2013), yang sangat populer di masyarakat.   Kandungan gizi dalam 100 g petai diantaranya adalah abu (g) 1,2–4,6, protein (g) 6,0–27,5, lemak (g) 1,6–13,3, karbohidrat (g) 13,2–52,9, serat total (g) 1,7–2,0, energi (kcal) 91,0–441,5, kalsium (mg) 108,0–265,1, besi (mg) 2,2–2,7, fosfor (mg) 115,0, kalium (mg) 341,0, magnesium (mg) 29,0, mangan (ppm) 42,0, tembaga/Cu (ppm) 36,7, seng/Zn (ppm) 8,2, vitamin C (mg) 19,3, 𝛼-tokoferol (mg) 4,15, dan thiamin (mg) 0,28 (Kamisah et al., 2013).  Aroma khas petai ditentukan oleh kandungan sulfur dalam biji petai.  Kandungan sulfur tersebut dapat berupa sistein dan turunannya seperti glutathione, djenkolic acid dan thiazolidine-4-carboxylic acid (Suvachittanont et al., 1996).  Selain dikonsumsi, petai juga berkhasiat sebagai obat diantaranya untuk penyakit diabetes, sakit ginjal, dan kolera (Abdullah et al., 2011).  Petai juga mengandung terpenoid seperti 𝛽-sitosterol, stigmasterol, lupeol, campesterol, dan squaleneLupeol berkasiat sebagai anticarcinogenic, antinociceptive, dan anti-inflammatory (Kamisah et al., 2013). 

Meskipun petai telah banyak dibudidayakan, namun petai banyak diperoleh dari hutan-hutan sebagai tanaman liar.  Konversi hutan menjadi lahan perkebunan (khususnya di pulau Sumatera), industri dan peruntukan lainnya dapat mengancam keanekaragaman petai (Zulhendra et al., 2016).  Berdasarkan hal-hal tersebut maka pengembangan petai penting untuk dilakukan. 

Pada pengembangan petai, perbenihan merupakan langkah awal yang menentukan tingkat keberhasilan budidaya.  Benih merupakan input awal yang sangat menentukan produktifitas dan kualitas hasil buah yang akan dipanen, sehingga ketersediaan benih dan ketepatan varietas (True to type) menjadi hal yang sangat penting.  Ketepatan varietas berkaitan dengan identifikasi tanaman sebelum dilakukan perbanyakan dan penyediaan benih petai. 

Tanaman petai mempunyai sistem penyerbukan terbuka, sehingga terdapat peluang adanya keragaman varietas petai.  Pada perbanyakan benih petai ditentukan oleh tujuan penggunaannya.  Benih petai dari biji (secara generatif) dapat digunakan untuk tujuan konservasi lahan, sehingga ketepatan varietas bukan menjadi hal utama pada perbanyakan benihnya.  Perbanyakan benih secara generatif relatif lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan benih secara vegetatif.  Perbanyakan benih petai untuk tujuan budidaya komersial digunakan perbanyakan benih secara vegetatif (grafting atau okulasi). Hal tersebut karena pada budidaya komersial petai, mutlak diperlukan ketepatan varietas yang akan dibudidayakan.  Pada perbenihan petai APBNP 2017 akan dilaksanakan kegiatan produksi benih sebar dari biji (generatif). 

  • ALUR PRODUKSI BENIH SEBAR DARI BIJI (GENERATIF)

Sesuai tujuan perbanyakan benih sebar yang berasal dari biji, maka posisi benih sebar berada langsung dibawah populasi biji terseleksi berdasarkan keunggulan karakter biji petai.

  • TEKNIK PRODUKSI BENIH SEBAR DARI BIJI (GENERATIF)

a. Penyediaan media persemaian/media tanam
Pada perbanyakan benih sebar ini media persemaian sekaligus merupakan media penanaman.  Penyemaian/penanaman dilakukan langsung pada polibag dengan media tanah dan pupuk kandang (1:1).

Persyaratan
- Tanah yang digunakan merupakan tanah top soil
- Polibag yang digunakan berukuran 20x30 cm.
- Pupuk kandang yang digunakan adalah pupuk kandang masak dengan ciri-ciri : warna hitam, tidak berbau menyengat, kondisi pupuk kandang kering sampai lembab (tidak basah).

Prosedur kerja
- Tanah dan pupuk kandang diaduk rata dengan perbandingan 1 : 1.
- Polibag-polibag diisi dengan media yang telah diaduk.
- Polibag yang telah diisi media disusun di tempat pembimbitan dan lokasi pembibitan harus terkena sinar matahari.
- Media disiram air sampai jenuh, media diusahakan dalam keadaan lembab.
- Media siap digunakan.

b. Pemilihan biji petai (calon benih sebar)
-   Pemilihan biji petai menjadi biji petai terseleksi didasarkan pada keunggulan sifat utama petai, seperti: panjang papan, jumlah biji per papan, dan bobot biji.

c. Prosesing dan penanaman biji
- Biji petai terseleksi dikupas, dicuci dengan air yang mengalir, kemudian direndam dalam larutan fungisida dengan dosis 2-3 g/ liter air selama 5-10 menit.
- Setelah biji direndam dalam larutan fungisida, selanjutnya ditanam pada media tanah : pupuk kandang (1 : 1).
- Penyiraman dilakukan secara merata dan teratur, dan disesuikan dengan kondisi kelembaban media.
- Pada kondisi optimal, benih akan tumbuh 14 hari setelah tanam.

d. Pemeliharaan
- Polibag-polibag berisi benih disusun di bawah naungan paranet 55% dan dilakukan penyiraman sampai cukup
- Penyiraman dilakukan tiap 2 hari sekali, apabila tidak ada hujan.
- Pengendalian gulma dilakukan dengan mencabut secara manual.
- Pengendalian jamur/cendawan dengan cara menyemprot dengan fungisida minimal 1 bulan sekali.
- Pengendalian semut, serangga, ulat dan belalang dengan cara menyemprot insektisida dosis 2-3 cc/ liter air.
- Setelah umur tiga-empat bulan benih siap ditanam sebagai benih sebar.

  • SISTEM PENGENDALIAN MUTU

Pada perbanyakan benih secara generatif/dengan biji, meskipun ketepatan varietas bukan menjadi hal mutlak, namun pemilihan biji berkualitas dapat ditentukan dengan mengamati karakter unggul petai.  Karakter unggul biji petai diantaranya panjang papan, jumlah biji dalam satu papan, dan bobot biji.  Pemilihan populasi biji calon benih petai (populasi terseleksi) ditentukan dari rerata kemiripan sifat unggul biji-biji petai tersebut.  Pemeliharaan standar produksi benih diterapkan untuk menjamin pertumbuhan benih yang optimal.

  • JADWAL PALANG KEGIATAN