JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
Seri Informasi Teknis No. 001, tahun 2011
MENGENALI PENYAKIT DARAH DAN LAYU FUSARIUM PADA TANAMAN PISANG

Dalam dua dasa warsa terakhir, penyakit darah dan layu fusarium menghancurkan pertanaman pisang di Indonesia. Akibat dari kedua penyakit tersebut, kantung-kantung produksi pisang tersapu bersih, meninggalkan cerita pilu petani pisang yang tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan dapur dan biaya sekolah anak-anaknya yang sebelumnya dipasok oleh pisang. Meskipun sudah sekian lama kedua penyakit tersebut menjamah Indonesia, kesalah mengertian petani dalam membedakan serangan penyakit darah dan layu fusarium masih terjadi. Hal ini terungkap dari beberapa kali pertemuan penulis dengan petani dan petugas pertanian (penyuluh pertanian maupun staf dinas pertanian) yang dengan semangatnya memaparkan kerusakan akibat layu fusarium, tetapi ketika penulis telusur lebih dalam ternyata sebenarnya adalah penyakit darah. Kesalahan mengenali ini juga berakibat fatal terhadap kesalahan dalam mengambil tindakan untuk pengendalian penyakit. Untuk menghindari kesalahan-kesalahan tersebut berlanjut, berikut adalah beberapa kunci perbedaan dari penyakit darah dan layu fusarium:

Gejala
Penyakit Darah
Layu Fusarium
Penguningan daun (ini merupakan gejala yang paling mudah dilihat dari penyakit darah dan layu fusarium)




Penguningan daun terjadi dimulai dari daun-daun yang lebih muda, langsung menyeluruh pada seluruh helaian daun, dan dalam waktu kurang dari 10 hari seluruh helaian daun menguning, menggantung dan mengering
Penguningan daun dimulai dari daun-daun yang lebih tua, dimulai dari tepi helaian daun (menyerupai gejala kekurangan nutrisi). Penguningan daun secara menyeluruh terjadi lebih lambat hingga satu sampai dua bulan
encoklatan pada saluran pembuluh (gejala internal, diketahui dengan cara memotong pelepah daun)
Pencoklatan terkonsentrasi pada bagian tengah dari helaian pelepah daun. Perubahan warna juga terjadi pada tangkai tandan, empulur dan bonggol.
Pencoklatan terjadi pada pelepah daun bagian luar, biasanya pada 4 – 10 pelepah daun dari luar. Perubahan warna juga terjadi pada bonggol.
Gejala busuk pada buah
Buah yang terserang menjadi busuk, berlendir atau mengering dengan warna merah kecoklatan sampai hitam. Gejala ini yang menjadi ciri khas dan asal mula munculnya nama penyakit darah.
Tidak terjadi busuk pada buah. Busuk buah pada tanaman yang terserang oleh penyakit layu fusarium terjadi karena tanamannya mati, buah tidak berkembang sehingga melemah dan mati. Kondisi ini memudah-kan serangan jamur-jamur parasit lemah seperti Colletotrichum, Botrytis, dll.
Busuk Pada Bunga Jantan
Tanaman yang terserang melalui serangga pengunjung bunga biasanya diawali oleh gejala busuk jantung. Jantung mengkerut, mengeriting dan mengering. Gejala ini merupakan gejala eksternal pertama yang dapat dikenali sebelum daun menguning
Tidak Terjadi
Gejala pecah pada batang, pemendekan internode, perubahan pada daun-daun yang baru muncul
Tidak Terjadi
Kadang Terjadi

Bau
Kadang berbau busuk
Tidak berbau
Penyebab Penyakit
Bakteri BDB (blood disease bacterium). Beberapa penulis menyebut bahwa penyakit darah disebabkan oleh Ralstonia solanacearum. Namun karena masih belum ada kesepakatan diantara para taksonomist bakteri, penulis menyarankan digunakan nama BDB
Cendawan Fusarium oxysporum f.sp. cubense (biasa disingkat menjadi Foc.)
Varietas Rentan
Serangan terutama terjadi pada pisang Kepok (Gajih (Jawa), Batu (Sumatera), Cepatu/Sepatu (Sulawesi)), pisang raja, dan pisang-pisang olah yang lain. Serangan pada pisang Ambon Hijau, Ambon Kuning dan pisang-pisang segar baru terjadi apabila pisang-pisang rentan semakin habis.
Varietas yang sangat rentan terhadap layu fusarium adalah Ambon Hijau, Ambon Kuning, Rajasere, Barangan. Penyakit akan menjadi lebih parah dan cepat apabila varietas-varietas tersebut ditanam secara monokultur.
Penularan
Penularan terjadi melalui bibit yang terinfeksi, alat-alat pertanian (terutama alat-alat pemotong seperti parang dan cangkul), serangga penggerek batang dan bonggol, dan serangga pengunjung bunga. Penularan melalui serangga pengunjung bunga mempunyai peluang yang paling besar, karena serangga bergerak (berpindah) secara aktif dari satu ke lain bunga untuk mencari madu (nektar).
Penularan terjadi melalui bibit terinfeksi, tanah yang terbawa oleh peralatan pertanian, atau spora yang hanyut oleh air irigasi atau air hujan
Pengendalian
Paket pengendalian yang harus dilakukan meliputi:
  1. Penggunaan bibit bebas penyakit,
  2. Disiplin untuk tidak menggunakan alat-alat yang terkontaminasi (bisa dilakukan dengan sterilisasi alat pada cairan deterjen),
  3. Tidak menggunakan parang dari kebun satu ke kebun lain tanpa sterilisasi (sebaiknya buah dipanen sendiri oleh pemilik dengan menggunakan peralatan sendiri yang diyakini bersih, tidak dengan membiarkan pedagang memanen sendiri buah-buah yang sudah sepakat untuk dibeli)
  4. Membungkus bunga pisang (dengan plastik biru, karung pupuk atau kertas semen) segera setelah bunga muncul, dan 
  5. Segera memotong jantung segera setelah sisir terakhir terbentuk agar tidak dikunjungi oleh serangga.
Paket pengendalian layu fusarium:
  1. Penggunaan bibit bebas penyakit
  2. Pemberian biocontrol (Trichoderma, Gliocladium, Pseudomonas fluorescence, dll)
  3. Tumpang sari dengan varietas tahan atau tanaman non inang
  4. Eradikasi dini terhadap tanaman terserang agar tidak menular dan menjadi sumber inokulum. Eradikasi sebaiknya dilakukan dengan cara menyuntikkan 10 -20 ml minyak tanah atau herbisida pada pangkal batang semu, sehingga tanaman terserang akan mati bersama-sama dengan penyakitnya
  5. Penggunaan mulsa plastik transparan (solarisasi) sebelum tanam terhadap lahan-lahan yang terinfeksi berat sangat efektif untuk mengurangi inokulum di dalam tanah, tetapi cara ini masih sangat mahal
  6. Tidak dianjurkan untuk mencincang tanaman yang sakit karena akan merangsang terbentuknya spora jamur dari setiap potongan jaringan yang terserang penyakit.

Bahan : Catur Hermanto