Ditulis oleh Administrator Dilihat: 1403

Pendekatan

Kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan semakin meningkat.  Hal ini ditandai dengan berubahnya pola konsumsi pangan.  Bahan pangan yang mengandung nilai gizi tinggi dan bermanfaat bagi pencegahan terhadap suatu penyakit menjadi prioritas konsumsi.  Primadona (2012) menyatakan bahwa jengkol (Pithecellobium jiringa (Jack.) Prain) kaya akan karbohidrat, protein, vitamin A, vitamin B, fosfor, kalsium, alkaloid, minyak atsiri, steroid, glikosida, tanin, dan saponin. Kandungan vitamin C pada 100 gram biji jengkol adalah 80 mg.  Biji, cangkang dan kulit batang jengkol memiliki kandungan zat anti diabetes, karena beraktifitas secara hipoglikemia.  Penelitian terhadap  ekstrak biji dan kulit batang jengkol berdampak positif dalam menurunkan kadar glukosa dalam darah sehingga mengurangi resiko terkena DM (Abdul Rozak et al., 2010; Endang, 2004). 

Tingginya permintaan masyarakat akan biji jengkol sebagai bahan konsumsi pangan mengakibatkan ketersediaanya di pasar sangat terbatas.  .  Harga jengkol naik drastis sampai Rp 60.000 per kg, bahkan di beberapa tempat terjadi kelangkaan jengkol (Kompas, 2013; Republika, 2013). Hal ini membuktikan bahwa komoditas ini mempunyai nilai tambah yang tinggi.  Keterbatasan ketersediaan biji jengkol di pasaran disebabkan karena belum adanya penanaman jengkol berskala kebun.  Sangat dimungkinkan tidak tersedianya benih unggul bermutu menjadi kendala dalam berbudidaya jengkol.

Benih yang sehat dicirikan dengan berkembangnya struktur penting tanaman seperti akar, batang dan daun.  Benih tumbuh vigor dengan perkembangan yang seimbang antara akar, batang dan daun.  Akar tumbuh menyamping dan menghujam ke bawah, diameter batang membesar dengan cepat, daun tampak hijau gelap segar yang berkembang dari percabangan tanaman dalam jumlah banyak.  Untuk itu ketersediaan benih sehat bermutu dalam jumlah banyak merupakan keharusan bagi pengembangan jengkol berskala kebun dalam rangka pemenuhan kebutuhan pasar yang tinggi.

Alur Produksi Benih Sebar Biji
Dalam perbanyakan benih sebar yang berasal dari biji maka keunggulan benih sangat ditentukan oleh keunggulan karakter biji jengkol terseleksi.

 Teknik Produksi Benih

a. Penyediaan media persemaian/media tanam
Pada perbanyakan benih sebar jengkol dari biji, media persemaian sekaligus merupakan media penanaman.  Penyemaian/penanaman dilakukan langsung pada polibag dengan media tanah dan pupuk kandang (1:1).

Persyaratan

Prosedur kerja

b. Pemilihan biji jengkol (calon benih sebar)

c. Prosesing dan penanaman biji

d. Pemeliharaan

Sistem Pengendalian Mutu

Sistem pengendalian mutu dilakukan melalui sertifikasi terhadap produk benih yang dihasilkan.  Sertifikasi benih adalah serangkaian pemeriksaan terhadap calon benih yang dimulai sejak di persemaian biji sampai benih menjadi individu siap tanam di lapangan dengan tujuan untuk menjamin kemumian genetik, mutu fisik, dan mutu fisiologis benih.  Diharapkan hal tersebut akan dapat memenuhi standar mutu yang ditetapkan dan layak untuk disebarluaskan.

Dalam Undang-Undang No.12 tahun 1992 tentang Sistem Budi Daya Tanaman  dinyatakan bahwa benih dari varietas unggul yang telah dilepas oleh pemerintah dinamakan benih bina.  Benih bina yang akan diedarkan harus melalui proses sertifikasi.  Sertifikasi benih dapat dilakukan oleh pemerintah.  

Lembaga sertifikasi benih pemerintah adalah BPSB (Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih). BPSB bertugas melakukan penilaian terhadap varietas, sertifikasi benih, dan pengawasan mutu terhadap benih yang telah beredar di pasaran. Sertifikasi varietas dilakukan pada setiap tingkatan kelas benih dengan menggunakan standar mutu yang telah ditetapkan oleh pemerintah menurut jenis tanaman dan kelasnya masing-masing.