JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Nanas (Ananas comosus sp.) merupakan salah satu buah populer yang banyak dikembangkan dan dikonsumsi di wilayah tropis. Buah nanas memiliki kandungan nutrisi yang cukup lengkap, terutama kandungan vitamin C, mineral mangan, dan air yang tinggi. Selain itu, buah nanas juga mengandung senyawa bromelian yang juga tinggi sehingga dapat digunakan untuk melembutkan daging.

Secara tradisional, tanaman nanas dibudidayakan melalui tunas yang anakan, tunas batang, atau tunas tangkai yang terdapat pada tanaman dewasa, sehingga jumlah benih yang dihasilkan menjadi terbatas. Seiring dengan berkembangnya teknologi, produksi benih tanaman nanas massal yang sehat dan seragam dimungkinkan dengan metode kultur in vitro (kultur jaringan). Teknik kultur in vitro sendiri telah banyak diaplikasikan dalam perbanyakan massal tanaman secara klonal, pengelolaan plasma nutfah, produksi massal senyawa bermanfaat (metabolit sekunder, vaksin), eliminasi virus, produksi tanaman poliploid, studi fisiologi, biokimia, mekanisme reproduksi, dan rekayasa genetik tanaman. 

Kultur in vitro tanaman nenas telah dimulai pada tahun 1977 oleh Wakasa dkk. yang menggunakan kombinasi beberapa zat pengatur tumbuh media MS (Murashige-Skoog) untuk menginduksi embrio somatik dari berbagai jenis eksplan nenas, yaitu syncarp, tunas aksilar, slip, dan mahkota. Pada saat yang bersamaan, Mathews dan Rangan (1979) juga melakukan kultur in vitro tanaman nanas dengan menggunakan zat pengatur yang berbeda pada media MS untuk menginduksi tunas.

Selanjutnya studi mengenai kultur jaringan in vitro banyak dilakukan dengan menggunakan berbagai jenis eksplan dan media untuk memaksimalkan pertumbuhan tunas, baik melalui organogensis (induksi tunas secara langsung) maupun somatik embriogenesis (induksi embrio dari sel somatik).  Penggunaan sistem imersi juga telah banyak dilakukan pada kultur jaringan nenas untuk mengoptimalkan pertumbuhan tunas dan planlet. Dengan berbagai pengembangan teknologi, satiap eksplan tanaman nanas dapat menghasilkan hingga ribuan plantlet (benih)

Teknik perbanyakan tanaman nanas secara in vitro secara umum tidak jauh berbeda dengan tanaman lain. Karena sifatnya yang tidak berkayu, tanaman nanas pada kondisi in vitro dapat tumbuh dengan relatif cepat. Eksplan yang digunakan pada metode tersebut antara lain mahkota buah, tunas anakan, tunas batang, dan tunas tangkai. Penggunaan tunas akan menghasilkan pertumbuhan yang lebih cepat daripada eksplan mahkota.

Sebelum ditanam pada kondisi in vitro, eksplan dibersihkan dengan air mengair dan dibuang semua daunnya. Setelah itu, eksplan harus disterilisasi dengan berbagai zat kimia, yaitu alkohol, kloroks, fungisida, dan bakterisida. Selain itu, untuk mencegah kontaminasi, penggunaan antibiotik dan zat HgCl2 juga dapat ditambahkan.

Setelah tahap sterilisasi, metode pengerjaan dapat diteruskan ke tahap inisiasi. Tahap ini ditujukan untuk memberikan waktu pada eksplan untuk beradaptasi dengan lingkungan in vitro serta mengemati apakah eksplan sudah benar-benar steril.  Pada tahap ini, umunya eksplan nanas akan ditanam pada media MS0 (Murashige-Skoog) tanpa penambahan zat pengatur tumbuh. Media MS banyak dipakai dalam kultur in vitro nanas karena komposisi media MS yang dinilai lengkap, sehingga sesuai untuk pertumbuhan in vitro tunas nanas.

Enam hingga delapan minggu setelah tahap inisiasi, ekpan dapat disubkutur ke media multiplikasi. Berbeda dengan tahap inisiasi, pada tahap multiplikasi, media yang digunakan sebaiknya mengandung zat pengatur tumbuh dari kelopmok sitokinin, misalnya BAP (benzylaminopurin) yang dapat menginduksi pertunasan dan dari golongan auksin untuk menginduksi perakaran. Tahap multiplikasi dapat dilakukan sebanyak tiga hingga lima kali untuk memperbanyak induksi tunas. Jumlah subkultur yang teralu banyak dapat menyebabkan timbulnya off type akibat terjadinya variasi somaklonal, yaitu plantley yang memiliki sifat keragaan yang berbeda dengan induknya.

Tunas yang telah tumbuh (planlet) selanjutnya dapat dikeluarkan dari dalam botol untuk diaklimatisasi pada media arang sekam. Tahap aklimatisasi ditujukan untuk memberikan adaptasi bagi plantlet yang sebelumnya berada pada lingkungan in vitro ke lingkungan ex vitro. Aklimatisasi dilakukan selama empat minggu. Setelah itu, benih dapat ditransplan ke media tanah di dalam rumah kasa. Setelah dua bulan, benih dapat dipindahkan dari rumah kasa dan ditanam di lapang disertai dengan perawatan optimal hingga tanaman menghasilkan buah.

Gambar 1. Skema perbanyakan klonal massal tanaman nanan secara in vitro

Sumber: Riry Prihatini