JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Kultur In Vitro Tanaman Nenas Sebagai Sumber Keragaman Genetik

Indonesia adalah salah satu negara biodiversitas, yang berarti bahwa negara kita memiliki sumber keanekaragaman hayati, termasuk keanekaragaman tanaman nenas  yang sangat luas. Setidaknya terdapat 79 aksesi nenas yang tersebar di Indonesia dan dikenal dengan nama lokal yang berbeda-beda, serta lebih dari 200 aksesi hasil hibridisasi. Keragaman hayati nenas merupakan aset negara yang berharga karena potensi pemanfaatannya yang begitu besar, salah satunya adalah dalam perakitan varietas unggul baru.

Selain hibridisasi (persilangan antara tetua untuk menghasilkan hibrida), beberapa cara yang dapat ditempuh dalam program perakitan varietas unggul antara lain melalui introduksi dan domestikasi koleksi plasma nutfah baru, serta manipulasi kromosom. Metode lain dalam program perbaikan tanaman nenas dilakukan melalui kultur in vitro, antara lain dengan teknik mutasi menggunakan paparan radioaktif atau bahan kimia tertentu, rekaya genetik (transfer gen), fusi protoplas, dan metode genome editing.

Kultur in vitro tanaman nenas telah dimulai pada tahun 1977 oleh Wakasa dkk.  yang menggunakan kombinasi dua jenis zat pengatur tumbuh, yaitu NAA (1-Naptheleneacetic acid) dan BA (benzyl amimo purine) pada media MS (Murashige-Skoog). Penelitian tersebut dilakukan untuk menginduksi embrio somatik dari berbagai jenis eksplan nenas, yaitu syncarp, tunas aksilar, slip, dan mahkota. Pada saat yang bersamaan Mathews dan Rangan juga melakukan kultur in vitro nenas dengan menggunakan zat pengatur tumbuh yang berbeda, yaitu beberapa jenis auksin dan kinetin pada media MS untuk menginduksi tunas.

Selanjutnya studi mengenai kultur in vitro nenas banyak dilakukan dengan menggunakan berbagai jenis eksplan dan media untuk memaksimalkan pertumbuhan tunas, baik melalui organogensis maupun somatik embriogenesis.   Penggunaan sistem imersi juga telah banyak dilakukan pada kultur in vitro nenas untuk mengoptimalkan pertumbuhan tunas dan planlet.

Sejak awal penelitian kultur in vitro tanaman nenas, telah ditemukan banyaknya variasi fenotif tanaman yang terjadi setelah tanaman hasil kultur in vitro ditanam di lapang. Lebih lanjut, studi profil genetik tanaman juga mengkonfirmasi adanya keragaman, seperti yang terjadi di lapang. Beberapa faktor penyebab tingginya variasi somaklonal antara lain jalur perbanyakan (organogenesi atau embriogenesis somatik), jenis eksplan, zat pengatur tumbuh, frekuensi sub kultur, dan umur plantlets.

Umumnya keragaman somatik pada nenas tidak terdeteksi pada kondisi in vitro, plantlet in vitro menunjukkan ciri morfologi yang hampir sama. Sebaliknya, keragaman tersebut akan nampak pada saat plantlet hasil kultur in vitro ditanam di lapang, misalnya bentuk batang roset, bentuk buah dan daun yang berbeda-beda.

Contoh tanaman nenas yang diperbanyak secara in vitro.

Keragaman genetik tumbuhan dapat dideteksi salah satunya dengan teknik RAPD-PCR (Rapid Polymorphism DNA – Polymerase Chain Reaction). Perbedaan pola pita DNA yang muncul dari RAPD memperlihatkan adanya perbedaan profil genetik sampel. Hasil RAPD pada nenas kultur in vitro pada gambar berikut memperlihatkan pola band yang berbeda yang artinya menunjukkan profil genetik yang berbeda antara sampel satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut merupakan hal yang penting dalam program pemuliaan  tanaman. Tanaman dengan materi genetik yang berbeda diharapkan dapat memiliki fenotif yang berbeda pula dan lebih baik, misalnya buah yang lebih manis, lebih produktif, lebih tahan penyakit, dan lainnya.

Contoh image gel RAPD-PCR nenas hasil kultur in vitro dengan primer OPA19 yang memperlihakan keragaman genetik plantlet dari jenis dan sumber eksplan yang sama (M: 100 kb marker, 1-12: sampel).

(Sumber: Perez dkk. 2012)

Gambar contoh keragaman pada buah nenas dari tanaman yang diperbanyak secara in vitro. Tanaman Red Spanish adalah tanaman sumber eksplan, sedangkan tanaman P3R5 dan Dwarf merupakan anakan hasil perbanyakan kultur in vitro, a) tanaman pada fase vegetatif, b) bentuk daun, c) bentuk buah.

Sumber: Riry Prihatini
01 Maret 2017