JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Konservasi In Vitro Jangka Pendek Dan Menengah Tanaman Buah Tropika

Sebagai salah satunya tugas dan fungsinya, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu Tropika) telah melaksanakan kegiatan koleksi dan karakterisasi plasma nutfah tanaman buah tropika. Khusus tanaman pisang, Balitbu Tropika telah memiliki kebun koleksi tanaman pisang yang berisi lebih dari 100 aksesi pisang yang dikumpulkan dari seluruh penjuru nusantara, sedangkan untuk tanaman nenas, Balitbu Tropika memiliki setidaknya 280 aksesi. Semua koleksi plasma nutfah tersebut telah dimanfaatkan dalam program pemuliaan tanaman untuk mendapatkan varietas unggul baru tanaman buah tropika. Namun demikian, koleksi lapang plasma nutfah tumbuhan membutuhkan sumberdaya yang besar dalam pengurusannya, yaitu lahan yang cukup luas, tenaga kerja yang banyak, dan biaya perawatan yang tidak murah. Selain itu, koleksi tanaman di lapang akan rentan terhadap gangguan lingkungan, misalnya cuaca dan serangan hama penyakit, sehingga resiko kehilangan koleksi akan lebih besar.

Salah satu metode alternatif yang dapat diaplikasikan untuk konservasi plasma nutfah tanaman adalah dengan teknik in vitro. Kultur in vitro telah umum diaplikasikan pada bidang pertanian, khususnya untuk perbanyakan tanaman, termasuk tanaman buah. Seiring berjalannya waktu, aplikasi kultur in vitro telah dikembangkan untuk tujuan lain, salah satunya adalah konservasi.

Walaupun konservasi in vitro lebih membutuhkan fasilitas laboratorium serta skill yang lebih tinggi, namun dengan teknik penyimpanan ini, materi tumbuhan akan dapat lebih terjaga. Konservasi in vitro sangat efisien karena tempat dan perlakuan perawatan yang jauh lebih sedikit daripada konservasi ex vitro (lapang). Selain itu, metode konservasi in vitro juga meminimalisir kerusakan koleksi karena pengaruh iklim dan serangan hama serta penyakit tumbuhan.

Konservasi in vitro dapat digolongkan menjadi konservasi jangka panjang, yaitu dengan teknik kryopreservasi dan konservasi jangka pendek-menengah, yaitu dengan teknik enkapsulasi dan pelambatan pertumbuhan. Dibandingkan dengan teknik kryopreservasi, teknik enkapsulasi atau benih sintetik lebih sederhana untuk dilakukan.

Benih sintetik telah dikembangkan pada tanaman Citrus (singh dkk. 2007), Actinidia, Diospyros, Malus, Olea, Prunus, Pyrus, Vitis (Benelli dkk. 2013), dan Brassica napus (Zeynali dkk.  2013).  Pada tanaman pisang, benih sintetik telah dikembangkan di antaranya pada pisang kultivar Basrai (Ganapathi dkk. 1992), Rasthali (Ganapathi dkk. 2001), Grand Naine (Sandoval-Yugar dkk. 2009), dan Kluai Hin (Kanchanapoom & Promsorn 2012). Lebih lanjut, pada tanaman nenas, enkapsulasi telah dikembangkan dengan pengaplikasian teknik butiran alginat sebagai metode penyimpanan jangka pendek dalam program transformasi (Gangopadhyay dkk. 2005). Tunas yang digunakan pada proses enkapsulasi nenas berasal dari eksplan tunas aksilar (Soneji dkk. 2002) maupun tunas apikal (Gamez-Prastana dkk.  2004).

Berikut langkah kerja dalam pelaksanaan enkapsulasi:

  1. Isolasi mata tunas atau embrio somatik tanaman menjadi potongan-potongan kecil
  2. Setelah diisolasi, mata tunas atau potongan embrio somatik selanjutnya dicelupkan berturut-turut  ke dalam larutan coating agent, berupa kalium alginat, natrium alginat, gelatin, agar-agar, atau Gelrite.
  3. Keluarkan mata tunas dari larutan coating agent dengan pipet steril dan masukkan ke dalam larutan kalsium klorida 2%. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kombinasi antara natrium alginat dan kalsium klorida merupakan coating agent terbaik bagi pembentukan benih sintetik.
  4. Selanjutnya, butiran alginat berisi mata tunas disimpan, baik dalam larutan MS0 (Media Murashige-Skoog tanpa zat pengatur tumbuh), akuades steril, atau tanpa larutan di dalam wadah steril, pada suhu rendah (hingga 4 °C).

Proses enkapsulasi akan membuat mata tunas tetap hidup, namun tidak mengalami pertumbuhan. Lebih lanjut, isolat mata tunas tersebut akan dapat tumbuh kembali jika ditanam pada media tertentu. Benih sintetik selanjutnya dapat mempermudah kegiatan pertukaran materi genetik, baik secara nasional maupun internasional.

(Sumber Lambardi et al. 2007)

Gambar tahap enkapsulasi: A. Perendaman mata tunas dalam larutan coating agent, B. Mata tunas dikeluarkan dari larutan coating agent dengan menggunakan pipet steril, C. Mata tunas dimasukkan dalam larutan CaCl 2%, D. Benih sintetik disimpan dalam wadah dan lingkungan steril pada suhu rendah.

(Sumber Kachanapoom & Promsorn 2012)

Gambar contoh benih sintetik sebagai salah satu metode konservasi in vitro jangka pendek dan menengah: a) benih sintetik pisang dan b) benih sintetik yang ditumbuhkan kembali.

Sumber: Riry Prihatini
27 Februari 2017