Perbaikan Varietas Mangga Komersial Melalui Persilangan

Dilihat: 922

Arumanis 143 dan Gedong Gincu merupakan varietas mangga untuk memenuhi pasar dalam negeri maupun ekspor. Di samping kedua varietas tersebut varietas unggul untuk memenuhi pasar ekspor ke depan adalah Ken Layung dan Garifta. Mangga Garifta, salah satunya adalah  Garifta Merah dilepas oleh Balitbu Tropika pada tahun 2009. Mangga Garifta ini oleh Ditjen Hortikultura telah dikembangkan ke sebelas propinsi di Indonesia. Permasalahan yang muncul adalah mangga komersial tersebut tidak tahan terhadap curah hujan tinggi sehingga jika pembungaan dan pembuahan terjadi pada musim hujan maka banyak bunga dan buah yang rontok, oleh karena itu perlu perbaikan karakter varietas tersebut. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki karakter tersebut adalah melalui persilangan. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan progeni hasil persilangan mangga komersial dengan 3 varietas mangga yang toleran terhadap curah hujan tinggi. Penelitian dilaksanakan di KP. Cukurgondang, Pasuruan,  Jawa Timur. Tetua yang digunakan adalah  4 varietas mangga komersial, yaitu: (1) Arumanis 143, (2) Gedong Gincu, (3) Ken Layung, dan (4) Garifta Merah, dan 3 varietas mangga yang toleran terhadap curah hujan tinggi, yaitu:  (5) Durih, (6) Bangalora, dan (7) Malgova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari hasil persilangan diperoleh 19 progeni dengan persentase keberhasilan persilangan 0,21 %.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan progeni hasil persilangan mangga komersial (Arumanis 143, Gedong Gincu, Ken Layung, dan Garifta Merah) dengan 3 varietas mangga yang toleran terhadap curah hujan tinggi.
Jumlah bunga yang disilangkan tidak sama untuk setiap tetua (Tabel 2). Hal ini terjadi karena terdapat tetua yang tidak berbunga sama sekali walaupun tanaman tetua sudah dipacu dengan ZPT atau tetua betina berbunga akan tetapi ketinggian pohon tidak terjangkau sehingga tidak memungkinkan untuk melalukan persilangan.  
Jumlah bakal buah yang jadi (umur 1 minggu dan 4 minggu)
Jumlah buah yang jadi pada 1 minggu setelah persilangan masih relatif tinggi, yaitu masing-masing 52,08%, 35,08%, 49,32%, dan 51,16% pada tetua betina Arumanis 143, Gedong Gincu, Ken Layung dan Garifta Merah, sedangkan pada resiproknya, yaitu tetua betina Durih 59,23% dan Bangalora 55,40%. Tingginya  fruitset umur 1 minggu ini disebabkan selama persilangan berlangsung sudah tidak ada hujan. Pada umur 4 minggu setelah persilangan bakal buah yang jadi mengalami kerontokan secara drastis hingga tinggal 3,21%, 3,90 %, 4,07 dan 1,27%  untuk tetua betina Arumanis 143, Gedong Gincu, Ken Layung dan Garifta Merah. Hal ini terjadi karena pada umur 15 hari setelah persilangan terjadi degenarasi endosperm sehingga bakal buah gugur (Iyer dan Schnell, 2009). Perbedaan jumlah bakal buah juga terjadi antar kombinasi tetua.
Pada persilangan dengan tetua betina Durih menghasilkan persentase bakal buah yang paling tinggi baik pada umur 1 minggu maupun umur 4 minggu setelah persilangan (59,23 % dan 8,46%) dibandingkan tetua betina lainnya. Tetua betina Gedong Gincu menghasilkan bakal buah paling rendah  pada umur 1 minggu (35,08%) sedangkan pada umur 4 minggu setelah persilangan tetua betina Garifta Merah menghasilkan bakal buah terendah (1,27%). Perbedaan hasil silangan ini diduga adanya inkompatibilitas yang berbeda antara tetua yang disilangkan.

 

Kiri : emaskulasi membuang  bunga jantan dan yang jelek
Kanan : pembungkusan

Kiri : Pembuangan benang sari yang masih tertinggal
Kanan : Pelaksanaan persilangan serbuk sari jantan (vareietas yang dipilih)

Fulltext...

Sumber : Prosiding Tenu Teknis Jabatan Fungsional Non Fungsional
         Yogyakarta 4-6 Juli 2018