JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Produksi Benih Sumber Dan Benih Sebar Tanaman Pisang

Pendekatan
          Untuk benih sumber digunakan anakan untuk mencegah adanya off-type tanaman hasil perbanyakan yang sering terjadi pada perbanyakan secara kultur jaringan. Sedangkan benih sebar diperbanyak secara kultur jaringan karena memerlukan jumlah yang besar. Metode lain adalah secara konvensional tetapi dengan mengoptimalisasi jumlah tunas asal anakan dengan mengupas semua pelepah dan mematikan titik tumbuh.

 Alur Produksi Benih:

1. Produksi benih sumber

          Benih sumber adalah benih tanaman yang tujuan utamanya akan dijadikan sebagai tanaman induk perbanyakan benih sebar. Oleh karena itu benih sumber harus dijamin kemurnian dan kesehatannya. Untuk menjamin kemurnian, maka bahan tanam yang diperbanyak adalah anakan dan sistem perbanyakan tanaman yang akan digunakan adalah yang mempunyai resiko mutasi yang sangat rendah, yaitu modifikasi dari perbanyakan tunas secara konvensional, tetapi dengan mengupas pelepah dan mematikan titik tumbuh dari bonggol pisang

          Untuk menjamin kesehatan benih, dilakukan indeksing penyakit virus yang paling banyak menyerang pisang Indonesia, yaitu banana bunchy top virus (BBTV). Deteksi virus BBTV atau indeksing BBTV dilakukan dengan metode PCR, yaitu dengan mendeteksi gen virus yang ada dalam sel tanaman. Indeksing BBTV dilakukan di awal yaitu dengan mendeteksi daun dari anakan calon materi perbanyakan, sebelum anakan tersebut yang diambil dari rumpun induk untuk diperbanyak menjadi benih sumber. Sedangkan yang kedua adalah indeksing di akhir, yaitu benih sumber yang siap sebar diindeksing terlebih dahulu untuk memastikan bebas dari virus BBTV. Alur produksi benih sumber ditampilkan pada Gambar 1.

2. Produksi benih sebar

          Benih sebar adalah benih yang langsung disebarkan ke petani untuk ditanam dengan tujuan utamanya diambil produksi buahnya. Metode perbanyakan yang digunakan aadalah metode cepat dengan sistem kultur jaringan. Apabila fasilitas kultur jaringan tidak tersedia karena memerlukan modal yang sangat besar untuk laboratorium dan lain-lain, maka perbanyakan yang dilakukan adalah dengan modifikasi teknologi perbanyakan konvensional (konvensional teroptimalisasi). Prinsip dari metode ini adalah dengan mematikan titik tumbuh (apical meristem) untuk merangsang tunas-tunas aksilar untuk tumbuh, dan membuang semua pelepah sampai pangkal dengan tujuan untuk mengurangi halangan bagi tunas aksilar untuk tumbuh.  Alur produksi benih sebar ditampilkan pada Gambar 2.

Gambar 1. Alur produksi benih sumber

 

Gambar 2. Alur pembuatan benih sebar

Teknik Produksi Benih

A. Produksi benih sumber

  1. Pemilihan rumpun induk. Rumpun induk bisa merupakan rumpun induk tunggal atau duplikat rumpun induk tunggal yang telah diregistrasi atau bersertifikat. Rumpun yang anakannya akan diperbanyak menjadi benih sumber harus sehat dan vigor.
  2. Pemilihan anakan. Anakan yang akan diambil untuk materi perbanyakan adalah anakan yang sehat, diameter bonggolnya berkisar 15-20 cm. Anakan air (tunasi air) tidak dipakai karena disamping ukuran bonggolnya kecil dan pertumbuhannya kurang bagus.
  3. Indeksing BBTV. Indeksing BBTV menggunakan teknik PCR, karena teknik ini sangat peka meskipun kadar virus dalam jaringan tanaman sangat rendah. Indeksing BBTV dengan teknik PCR hanya bisa dilakukan oleh laboratorium yang mempunyai fasilitas PCR. Untuk mengamplifikasi virus BBTV menggunakan pasangan primer dari fragmen-fragmen virus, contohnya adalah coat protein (CP) dan nuclear shuttle protein (NSP). Materi tanaman yang digunakan untuk indeksing ini adalah DNA yang diekstrak dari daun dari calon tunas yang akan diperbanyak menjadi benih sumber. Indeksing dilakukan terutama pada tunas-tunas yang ada akan diperbanyak. Apabila hasil indeksing negatif berarti tunas anakan tersebut bisa dipergunakan sebagai materi perbanyakan. Apabila hasilnya positif makan tunas anakan tersebut harus segera dimusnahkan agar tidak menyebar ke tanaman pisang lainnya.
  4. Persiapan kondisi persemaian. Kondisi persemaian harus teduh dan tidak terkena panas secara langsung. Oleh karena itu harus diberi naungan bisa menggunakan paranet atau anyaman daun kelapa/tebu. Persemaian bisa dalam bentuk seedbed atau langsung dalam polibag. Media untuk persemaian adalah campuran tanah dan pasir.
  5. Persiapan bahan tanam/anakan. Anakan yang memenuhi syarat untuk sumber benih dipisahkan dari induknya, dicuci bersih dan pelepahnya dikupas semua. Pengupasan dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak bakal tunas aksilar. Setelah hampir semua pelepah dikupas, pelepah bagian tengah dipotong sampai dasar dan dicongkel bagian tengah untuk membunuh titik tumbuh.
  6. Penanaman dalam media persemaian. Bonggol yang telah dikupas dan dbuang titik tumbuhnya ditanam dalam seedbed atau polibag berisi campuran tanah dan pasir. Penanaman dengan cara membenamkan 2/3 bagian bonggol dalam media. dan setelah itu ditutup dengan pasir. Kelembaban media perlu dijaga.
  7. Pemisahan dan pemindahan tunas. Lebih kurang satu bulan setelah persemaian tunas-tunas mulai tumbuh. Jumlah tunas yang tumbuh dipengaruhi oleh kultivar pisang. Untuk pisang Ambon, Barangan, dan Mas biasanya menghasilkan 3-4 tunas per bonggol. Untuk Kepok biasanya menghasilkan 1-2 tunas. Sedangkan Tanduk bisa menghasilkan 10-20 tunas per bonggol. Tunas yang sudah berakar bisa dipisah dan dipindahkan ke media dalam polibag yang baru.
  8. Perawatan, pengendalian OPT dan pemupukan. Perawatan berupa penyiraman dilakukan secukupnya. Untuk OPT yang perlu diwaspadai adalah hama kutu daun yang biasanya bersembunyi di dalam gulungan daun yang belum membuka sempurna. Kutu daun ini adalah vektor BBTV. Apabila mulai ditemukan hama tersebut, perlu dilakukan penyemprotan insektisida. Untuk mengantisipasi penyebaran vektor dan penyakit tersebut perlu dilakukan kegiatan monitoring secara ketat. Pemupukan dilakukan 2 minggu sekali dengan menyemprotkan pupuk daun 2 g/l.
  9. Indexing BBTV. Indexing tahap sebelum benih disebar bertujuan untuk memastikan benih-benih sumber tersebut bebas dari BBTV, karena berpeluang terinfeksi saat dalam masa pembesaran. Jumlah tanaman yang diindeksing tidak perlu semua tetapi hanya beberapa yang mewakili blok tempat menaruh benih tersebut. Satu blok bisa 5-10 sampel.
  10. Pelabelan. Pelabelan dilakukan oleh BPSB. Label yang diberikan bisa label ungu (benih pokok) atau putih (benih dasar) tergantung dari asal benih sumber.

          Prosedur pembuatan benih sumber ini juga bisa digunakan untuk memproduksi benih sebar, terutama apabila tidak ada fasilitas perbanyakan benih secara kultur jaringan.

B. Produksi benih sebar

          Produksi bisa dilakukan secara kultur jaringan atau secara konvensional teroptimasi (pembuangan pelepah dan pematian titik tumbuh). Prosedur konvensional teroptimasi sama dengan prosedur pembuatan benih sumber di atas.

          Sedangkan produksi benih sebar secara masal dalam waktu yang relatif singkat adalah secara kultur jaringan. Pada saat ini telah banyak produsen benih pisang secara kultur jaringan karena permintaan benih pisang yang makin lama makin meningkat. Prosedur perbanyakan benih secara kultur jaringan dijelaskan di bawah ini.

  1. Pemilihan rumpun induk. Rumpun induk bisa merupakan rumpun induk yang telah diregistrasi atau bersertifikat. Rumpun yang anakannya akan diperbanyak menjadi benih sebar harus sehat dan vigor.
  2. Pemilihan anakan. Anakan yang akan diambil untuk materi perbanyakan adalah anakan yang sehat, diameter bonggolnya berkisar 10-15 cm. Anakan air (tunasi air) tidak dipakai karena disamping ukuran bonggolnya kecil dan pertumbuhannya kurang bagus.
  3. Indeksing BBTV. Indeksing terhadap penyakit BBTV dilakukan secara rutin terhadap tumpun induk, terutama terhadap anakan yang akan dipakai sebagai sumber eksplan.
  4. Pengambilan dan pencucian anakan. Anakan yang sudah dipastikan bebas BBTV diambil secara hati-hati menggunakan linggis dengan ujung pisau lebar, agar tidak rusak. Anakan dicuci bersih menggunakan deterjen pada air kran atau air mengalir.
  5. Sterilisasi eksplan. Bonggol dikupas sampai berukuran 5 cm dan direndam dalam alkohol 70% selama 10 menit, dilanjutkan clorox atau larutan pemutih 100% (5,25% sodium hypochlorite) selama 10 menit. Di dalam laminar, bonggol dikupas lagi sampai berukuran 3 cm dan direndam dalam 8% larutan pemutih selama 10 menit, kemudian dibilas dengan aquades steril sebanyak tiga kali. Sebelum ditanam eksplan dikupas sampai berukuran 1 cm dan dibelah menjadi empat bagian.
  6. Inisiasi dan subkutur multiplikasi. Inisiasi eksplan dan subkultur biakan dilaksanakan di dalam Laminar Air Flow Cabinet (LAFC).
  • Eksplan yang sudah dibagi menjadi 4 bagian ditanam dalam botol kultur yang berisi media kultur padat MS yang telah ditambah 5 mg/L BAP dan 2 mg/L IAA. KUltur disimpan dalam ruangan dengan suhu 25 °C dengan penyinaran 16 jam.
  • Satu bulan setelah kultur biakan sudah berkembang, pelepah membuka dan dibuang agar tunas yang berada di antara pelepah bisa tumbuh. Pembuangan pelepah dilakukan di atas petridish steril. Setelah pelepah dibuang, biakan dipindah ke media baru dengan komposisi yang sama.
  • Satu bulan kemudian tunas-tunas mulai tumbuh dan perlu dipisahkan dan disubkultur ke media baru. Biakan dikuluarkan dari botol kultur dan ditempatkan pada petridis steril.
  • Daun dan pelepah dari eksplan dibuang dan disisakan bonggol kecil saja (Gambar 3.)
  • Bonggol kecil ditanam ke dalam media MS padat yang mengandung BAP 4,0 mg/L dan IAA 2,0 mg/L. 

  • Subkultur dilakukan setiap bulan, sampai diperoleh tunas (planlet) yang siap untuk diaklimatisasi (tinggi ± 3 cm dan sudah berakar).

 

Gambar 3. Sistem pembuangan pelepah daun untuk subkultur eksplan pada perbanyakan benih penjenis secara in vitro

       7. Aklimatisasi. Agar planlet bisa tumbuh dan beradaptasi dengan lingkungan luar botol, maka perlu diaklimatisasi.

  • Planlet dikeluarkan dari botol kultur dan dipisahkan satu sama lainnya.
  • Planlet dibersihkan dari bekas media agar yang menempel menggunakan air mengalir.
  • Daun-daun dikurangi dan disisakan satu atau dua daun per planlet, serta akar-akar yang tumbuh dipotong dan disisakan sepanjang 0,5 cm.
  • Planlet disterilisasi dengan merendamnya dalam larutan fungisida Benlate (1 g/L) selama 10 menit.
  • Setelah disterilisasi planlet ditiris dan ditanam dalam tray plastik yang berisi media pasir yang telah disiram dengan air. Penanaman planlet dilakukan dengan jarak tanam 5 X 5 cm.
  • Tray plastik ditutup dengan plastik dengan tujuan mengurangi penguapan. Penyiraman dilakukan secukupnya.
  • Satu minggu setelah aklimatisasi, tutup plastik dibuka setengah bagian, dua minggu kemudian dibuka ¾ bagian, dan pada minggu ketiga dapat dibuka seluruhnya.

     8. Transplanting. Satu bulan setelah aklimatisasi planlet dapat dipindah ke polibag yang berisi campuran media tanah dan pupuk kandang (1:1 w/w).
     9. Indeksing BBTV. Untuk memastikan benih bebas BBTV, perlu dilakukan indeksing. Jumlah tanaman yang diindeksing tidak perlu semua tetapi hanya beberapa yang               mewakili blok tempat menaruh benih tersebut. Satu blok bisa 5-10 sampel.
   10. Pelabelan. Pelabelan dilakukan oleh BPSB. Label yang diberikan adalah label biru (benih sebar).

Sistem Pengendalian Mutu

          Untuk menjaga kualitas benih, maka perlu diadakan pengendalian mutu benih. Sistem kendali mutu benih meliputi tiga sistem, yaitu: kendali mutu genetik, kendali mutu kesehatan dan kendali mutu fisiologis.

A. Kendali Mutu Genetik

Untuk menjamin kepastian varietas benih penjenis, perlu dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap genetik varietas tanaman pisang. Monitoring genetik dapat dilakukan dengan melihat secara visual maupun secara molekular. Secara visual adalah dengan membandingkan karakter morfologi yang nampak pada varietas tersebut dengan data diskripsi induk varietas yang bersangkutan. Apabila terdapat penyimpangan, maka tanaman tersebut harus dikeluarkan dari kelompoknya.

Teknik monitoring genetik secara molekular yang saat ini sering digunakan adalah dengan teknik berbasis PCR. Beberapa teknik berbasis PCR yang banyak digunakan adalah random amplified polymerism DNA (RAPD), single sequence repeate (SSR), inter single sequence repeate (ISSR), single nucleotide polymerism (SNP), dan lain-lain. Teknik berbasis PCR tentunya memerlukan alat dan ketrampilan khusus.

B. Kedali Mutu Fisiologis

            Pada dasarnya setiap varietas tanaman pisang mempunyai pertumbuhan intrinsik tanaman yang berlainan antar varietas. Perbedaan ini ditunjukkan dengan pola pertumbuhan sejak tanaman masih kecil sampai berproduksi. Pola pertumbuhan ini merupakan cerminan dari proses fisiologis yang sedang berlangsung sesuai dengan kondisi umur dari masing-masing individu tersebut. Pola pertumbuhan dapat diukur secara kuantitatif dengan analisis pertumbuhan tanaman. Analisis yang sering dipakai adalah dengan menentukan pola Kecepatan Pertumbuhan Relatif (Relatif Growth Rate) tanaman.

C. Kendali Mutu Kesehatan

Sebagaimana umumnya tanaman buah-buahan, pertumbuhan tanaman pisang juga tidak terlepas dari ancaman serangan berbagai penyakit. Penyakit-penyakit yang sering mengakibatkan kerusakan serius adalah penyakit layu yang disebabkan oleh cendawan (Fusarium oxysporum f.sp. cubense) dan bakteri atau penyakit darah (Ralstonia solanacearum) maupun virus (BBTV, CMV dan BSV). Penyakit-penyakit ini diketahui telah menyebar di bebebapa daerah pertanaman pisang, bahkan tiga diantaranya, yaitu layu Fusarium, layu bakteri Raestonia solanacearum, dan BBTV diketahui endemis di hampir seluruh pertanaman pisang.

Untuk tanaman yang dihasilkan dari perbanyakan secara kultur jaringan pada umumnya bebas dari penyakit yang disebabkan oleh cendawan dan bakteri, karena keberadaan cendawan dan bakteri akan mudah dideteksi delam media kultur jaringan, sehingga apabila biakan kultur tidak ada kontaminasi berarti bebas dari cendawan maupun bakteri. Namun demikian virus (BBTV, CMV dan BSV) yang terbawa eksplan tidak akan nampak pada biakan kultur. Oleh karena itu sangat penting adanya indeksing pada anakan yang akan diperbanyak secara kultur jaringan. Selain di awal kegiatan kultur jaringan, indeksing virus juga diperlukan di akhir, yaitu sebelum benih disebar, karena peluang masuknya virus melalui serangga vektor selalu ada selama perawatan saat aklimatisasi sampai tanaman siap sebar.  

Jadwal Palang Kegiatan

          Meskipun kemampuan perbanyakan secara kultur jaringan sangat besar, tetapi proses produksi benih pisang secara kultur jaringan dari mulai pengkulturan (inisiasi) sampai siap sebar memerlukan waktu minimal 7 bulan dengan 4 kali subkultur, karena untuk tahapan aklimatisasi sampai siap tanam memerlukan waktu 3 bulan. Oleh karena itu untuk BPTP yang tidak mempunyai fasilitas kultur jaringan disarankan untuk produksi benih sebar dengan mengadakan bahan tanam setengah jadi dalam bentuk planlet pasca aklimatisasi, sehingga transplanting, perawatan sampai siap tanam dilakukan di BPTP.

LAMPIRAN

RAB Produksi benih sebar pisang (per 1000 benih secara kultur jaringan)

RAB Produksi benih sebar pisang (per 1000 benih dengan pengadaan planlet pasca aklimatisasi)

Prosedur Sterilisasi Eksplan

Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika
Science. Innovation. Networks
Badan Litbang Pertanian - Kementerian Pertanian