JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Mussidia pectinicornella Hamps, Si Penggerek Buah Petai

Tanaman petai (Parkia speciosa Hassk) merupakan tanaman dari famili Leguminosae yang diketahui mempunyai banyak manfaat kesehatan. Bahkan kulit buahnya juga memiliki banyak manfaat karena memiliki kandungan antioksidan (Aisha et al., 2012) dan polifenol (Ko et al., 2014) serta bahan aktif yang bermanfaat sebagai anti radang lambung (Al Batran et al., 2013) dan anti diabetes (Jamaludin and Mohamed, 1993). Buah petai digemari masyarakat terutama di Asia Tenggara sebagai salah satu jenis sayuran meskipun buah ini memiliki bau khas yang tajam. Memiliki aroma tajam dan menyengat tidak menjadikan buah petai dijauhi oleh hama. Salah satu jenis hama yang cukup mengganggu pada buah petai adalah hama penggerek buah yang dikenal dengan ngengat (Snout Moth) Mussidia pectinicornella Hamps.

M. pectinicornella dilaporkan menyerang berbagai famili tanaman di Asia dan Australia. Disamping menyerang tanaman famili Leguminosae (termasuk petai/Parkia, Bauhinia, jengkol/Pithecellobium, Parkia javanica, Canavalia ensiformis, Crotalaria lunata, Pongamia pinnata, Caesalpinia sappan, Cassia grandis dan Erythrina), hama ini juga menyerang tanaman dari famili Sterculiaceae (Theobroma cacao) dan Sapindaceae (Nephelium ophioides) (HOSTS, 2018).

Hama M. pectinicornella menyerang buah petai ketika masih berbentuk larva. Larva M. pectinicornella berkembang pada biji petai setengah tua sepanjang tahun. Tahap larva berlangsung sekitar 15 hari dan pupa selama 8 hari, meskipun tidak ada telur yang menetas pada pengujian laboratorium, diperkirakan perkembangan hama ini dari fase telur sampai dewasa berkisar selama 28 hari. Betina dewasa tidak dapat bertahan hidup lebih lama dari 1 minggu dan menghasilkan telur sekitar 20 butir saja. Fase pupa dari hama tersebut berlangsung di tanah (Van der Goot, 1940). Ulat ini menyerang polong petai dan jengkol. Panjang badan ngengat ini lebih kurang 13 mm. Telur diletakkan pada polong buah petai. Jumlah telur berkisar 7-20 butir. Setelah menetas, kemudian ulat masuk ke dalam polong. Lubang tidak terlihat dari luar jika tidak diperhatikan dengan seksama karena ukuran lubangnya yang kecil. Ulat membesar di dalam polong panjangnya sekitar 14 mm. Ulat yang telah membesar berwarna ungu suram. Umumnya hanya ada 1 ulat dalam 1 biji. Meskipun sebenarnya tidak mengakibatkan pengaruh negatif namun kita akan merasa jijik untuk memakannya (Pracaya, 1999).

Kerusakan buah akibat serangan hama ini tidak terlihat sampai kulit buah dikelupas. Meskipun demikian kerusakan biji petai yang diakibatkan oleh serangan hama  M. pectinicornella bervariasi hingga mencapai 75% selama musim kering dan berkisar 20-30% pada musim penghujan (Van der Goot, 1940). Persentase serangan hama ini pada polong petai di Malaysia berkisar antara 21,6% hingga lebih dari 82,2% sementara infestasi pada biji petai berkisar antara 1,9% sampai 19,6% (Agboka, 2009). Sementara persentase infestasi larva hama M. pectinicornella pada biji petai yang diamati pada musim penghujan tahun 2017 dari satu aksesi petai asal Kabupaten Solok, Sumatera Barat sebesar kurang dari 10%. Adapun gejala serangan hama penggerek buah M. pectinicornella seperti terlihat pada Gambar 1.

Gambar 1:
Serangan hama penggerek, Mussidia pectinicornella Hamps pada buah petai. Serangan tingkat lanjut dimana terlihat biji petai sudah berlubang cukup besar (a), serangan awal dimana lubang terbuka pada biji belum terlihat jelas namun jika biji dibuka didalamnya ditemui larva hama yang cukup besar (b), kerusakan pada biji petai yang terserang hama penggerek (c), gejala internal pada biji petai yang terserang hama penggerek buah (d).

Pengendalian:

  • Tanah di bawah tajuk pohon dibersihkan dan diusahakan agar tidak digunakan sebagai tempat berkepompong salah satu cara dengan memberikan mulsa jerami padi atau jenis mulsa lainnya seperti metode yang digunakan untuk penanganan burik pada buah manggis (Affandi & Emilda, 2010). Metode ini akan menurunkan populasi hama pada siklus berikutnya.
  • Buah yang telah busuk dibakar, sedangkan yang masih baik di pohon agar segera dipanen agar tidak dimanfaatkan oleh ngengat dewasa sebagai tempat untuk bertelur. Jika perlu dan memungkinkan buah disemprot dengan Azodrin sebelum terlihat ada serangan (Pracaya, 1999).
  • Penyemprotan buah dengan ekstrak tanaman dan minyak atsiri seperti minyak mimba (neem) 5%, minyak jarak (Jatropha curcas) 20% dan ekstrak Hyptis suaveolen 20%. Metode ini menurunkan jumlah telur yang diletakkan hama di buah (bersifat oviposition deterrent) (Agboka, 2009). Namun pelaksanaan pengendalian dengan metode ini sedikit menghadapi kendala mengingat tanaman petai dewasa pada umumnya cukup tinggi.
  • Pengendalian menggunakan musuh alami. Dilaporkan ada 3 parasitoid pada larva hama penggerek buah petai di Malaysia yaitu Bracon , Sphaeripalpus sp. dan Eurytoma sp. (Agboka, 2009).

Sumber: Deni Emilda