JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

WORKSHOP KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DENGAN  AGENT BASED MODELLING

Balitbu Tropika, 2015. Pendekatan umum dalam mengetahui perilaku sosial dapat dilakukan melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Agent based modelling (ABM) merupakan salah satu pendekatan dengan kualitatif dalam bentuk model simulasi yang menggambarkan agen dalam sebuah sistem yang komplek.  ABM  menggunakan pendekatan Bottom up dari bawah ke atas dimana sistem dianalisis dengan melihat perilaku tiap individu sehingga membentuk keseluruhan sistem. Dalam bidang pertanian ABM dapat digunakan dalam penentuan kebijakan pertanian dengan pendekatan dari bawah ke atas. Oleh karena itu perlu dilakukan pembekalan ABM pada peneliti.

Badan Litbang Pertanian berkerja sama dengan School of Business and Management ITB menyelenggarakan WORKSHOP AGENT BASED MODELLING pada tanggal 11-15 Nopember 2015 di Hotel de Java Bandung. Peserta terdiri dari 20 orang berasal dari peneliti dilingkup Badan Litbang Pertanian antara,  lain dari Balithi, BB Mektan, BB Padi, BBSDL, BB Biogen, PSEKP dan Puslit Perkebunan. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika menugaskan Tri Budiyanti, SP, Msi untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Kegiatan hari kedua diawali dengan pembukaan pelatihan oleh Bapak Sekretaris Badan Litbang Pertanian. Dilanjutkan pemaparan tentang gambaran umum inovasi teknologi pertanian di Indonesia. Materi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Jann  Hidayat tentang Pengantar berpikir sistem dalam perencanaan kebijakan.Selain itu materi hari pertama juga disampaikan Langkah-langkah permodelan ABM dan pendahuluan program software SOARS. Pada hari kedua dilaksanakan kegiatan praktikum perangkat lunak  SOARS (Spot Oriented Agent Role Simulator).

SOARS merupakan piranti simulasi terpadu yang juga dapat digunakan untuk menganalisis hasil simulasi melalui visualisasi, dari proses konstruksi model hingga eksekusinya. Beberapa Konsep dalam SOARS yaitu :

  • Agen:
  • Sebuah subjek otonom dan pembuat keputusan.
  • Berada dalam ruang yang disebut spot. Agen dapat berpindah dari satu spot ke spot lain.
  • Memiliki peran (role). Tiap peran menyatakan aturan bagi perilaku agen.
  • Agen dapat mengalami perubahan peran secara dinamis.
  • Spot:
    • Menyatakan ruang di mana agen dapat berada.
    • Ruang fisik seperti gedung, ruangan, kota, desa.
    • Kelompok agen seperti pelajar atau anggota masyarakat.
    • Konsep abstrak dari pasar dapat juga digunakan sebagai spot.
  • —  Role:
  • Peran agent atau spot ada dalam SOARS.
  • Kedua peran didefinisikan oleh aturan (rules).
  • Namun, aturan spot berbeda dengan aturan bagi agent. Aturan spot untuk peran spot, sedangkan aturan agent untuk peran agent.
  • Agen tidak dapat memiliki peran yang sama dengan perean spot.
  • Peran dapat berubah secara dinamis

Setelah pemberian materi dan simulasi tentang SOAR maka kegiatan hari ketiga dilanjutkan menentukan materi tugas kelompok serta diputuskan tema untuk kelompok 5 yaitu Model pencegahan penyebaran hama Aceria pada tanaman kelapa. Anggota kelompok terdiri dari Tri Budiyanti, Jelfina C Alouw, Raden Hera Nurhayati, dan Nur Qomariah Hayati Tugas ini akan diselesaikan selama dua bulan. Dalam proses penyelesaian tugas akan dibantu oleh tim SBM ITB secara on line. Kegiatan pelatihan ditutup oleh guru besar SBM ITB Prof. Dr. Utomo  Sardjono pada hari Sabtu 15 Nopember 2015.

Tri Budiyanti, Jelfina C Alouw, Raden Hera Nurhayati, dan Nur Qomariah Hayati

Prof. DR. Utomo Sardjono Guru Besar SMB ITB saat menutup workshop ABM (kanan)

Foto dan naskah : Tri Budiyanti
Nopember 2015

Pin It