JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Berita

Tinjuan Usahatani Menuju Bertani Modern Yang Terkonsep :
Sustainable Agroecosystem pada Agro Tegalwaru, Ciampea Bogor

Balitbu Tropika, 2017. Untuk melihat perubahan perilaku petani baik yang konvensional maupun petani maju, tentu membutuhkan kajian dari para pelakunya. Agro Tegalwaru dikembangkan dari akhir Juli 2016 di Desa Tegalwaru, Ciampea, Bogor (210m dpl), di atas lahan seluas 2.1 Ha. Lahan sebelumnya merupakan lahan tidur non-produktif selama lebih dari 10 tahun, dengan dominan vegetasi rumput & gulma dan secara acak ditanami Singkong, Sengon, Jambu Jamaica dan beberapa Pisang. Dari kondisi awal tersebut, maka desain dan pengembangan Agro Tegalwaru di tujukan dalam 3 aspek kunci berikut :

  • Aspek Lingkungan, perbaikan kualitas tanah keseluruhan  yang rusak akibat praktek tanam tanpa pemupukan yang benar, proses pencucian hara dan kondisi fisik & kimia lahan;
  • Aspek ke –Ekonomian, mengubah lahan non produktif menjadi lahan produktif yang bisa menghasilkan produk jangka pendek (1 bulan - 12 bulan), jangka menengah (1-4 tahun) dan jangka panjang (> 4tahun);
  • Aspek Bisnis Jangka Panjang, menjadikan Agro Tegalwaru sebagai kebun produksi yang di kelola secara profesional dengan produk unggulan ‘Durian Premium’ untuk target market Mid-High di area Jakarta dan sekitarnya;

Tantangan Pengembangan Agro Buah Durian

Tantangan pengembangan Agro Buah, terutama produk Durian dibagi dalam 3 komponen utama :

  1. Penguasaan Budidaya, teknologi budidaya yang tepat guna, efektif dan ramah lingkungan dan mampu menghasilkan produk berkualitas secara konsisten;
  2. Sumber Daya Manusia, kemampuan sumber daya manusia, baik dalam penguasaan skill agro, pengetahuan business, manajemen kebun dan pasca panen;
  3. Manajemen Investasi dan Resiko; jangka waktu investasi yang relatif panjang (> 5 tahun) dan persepsi resiko investasi yang tinggi untuk Duriandengan mengacu biaya operasional yang harus di keluarkan kontinue 4-5 tahun dan ketidakpastian hasil produk (kuantitas dan kualitas);

Akses pasar secara umum tidak menjadi isue signifikan, karena pasokan Durian lokal dengan kualitas premium bisa dibilang sangat-sangat terbatas bila dibandingkan permintaan pasar. Terbukti dengan import Durian yang setiap tahun terus dilakukan dari Thailand dan Malaysia, dengan harga premium, kualitas medium (Grade B) dan selalu ludes di pasaran. Hal ini sangat bertolak belakang dengan studi banding yang dilakukan Trijaya (2015 – 2016) di beberapa petani Durian Thailand (sentra produksi Chantaburi) dan Malaysia (sentra produksi Penang dan Pahang). Investasi agro durian yang relatif besar, diimbangi dengan pengetahuan sumber daya manusia yang sangat baik di agro dan pasar (Good Agricultural Practices), sehingga mampu menghasilkan produk premium secara konsisten. Di sisi lain, pasar lokal juga bisa meng-apresiasi produk bermutu dengan harga jual yang bagus. Singkatnya, investasi di kebun Durian yang dilakukan secara profesional, bisa memberikan imbal balik ekonomi yang sangat baik ....untuk petani Malaysia dan Thailand!!

Proses Pasca Panen Monthong Untuk Ekspor ke China, Chantaburi Thailand, Juni 2015 (doc. Trijaya)

Penerapan Sustainable Agroecosystem di Agro Tegalwaru

Belajar dari ‘best practices’ yang dilakukan petani-petani di Thailand dan Malaysia, adopsi teknologi budidaya & produk penelitian dari Balitbu Tropika Solok dan juga karakter petani/investor/ agropreneur perkebunan buah di Indonesia, maka Trijaya Agro Mandiri (TAM) mengadopsi konsep ‘Sustainable Agroecosystem’ dalam desain solusi agro buah tropis. Adaptasi konsep ‘Sustainable Agroecosystem’ menuntut desain dan implementasi agro secara cermat dengan mempertimbangkan 3 area kunci :

  1. Environment Sustainability,fokus dalam perbaikan dan menjaga kualitas tanah, air dan lingkungan, penggunaan produk input secara berhati-hati, serta penerapan praktek budidaya yang ramah lingkungan;
  2. Economic Sustainability,fokus dalam pengelolaan agro yang produktif & efisien, stabilitas dalam pendapatan agro dan pengelolaan investasi untuk menjaga kesinambungan agro;
  3. Social Sustainablity, fokus terhadap kesejahteraan dan pemberdayaan pekerja agro, dan sebisa mungkin memberikan dampak positif di lingkungan sekitar;

Pada aplikasinya, konsep Sustainable Agriculture dilaksanakan sebagai ‘Integrated Farming’ yang mengintegrasikan seluruh aspek pertanian sebagai suatu siklus bio-industri. Mendapatkan pendampingan langsung dari Balitbu Tropika (DR. Panca Jarot Santoso), pada tahap awal konsep ini di terjemahkan Trijaya dalam pengembangan Agro Tegalwaru, Bogor (2016) dengan mengintegrasikan tanaman jangka Pendek (sayuran semusim Sawi, PakChoi, Kubis, Terong dan Cabe), integrasi tanaman jangka Menengah (Pepaya Merah Delima dan mix varian Pisang), integrasi tanaman Jangka Panjang (durian unggul lokal Pelangi, Super Tembaga, koleksi durian aksesi Balitbu Tropika dan durian unggul Introduksi dari Malaysia dan Thailand) dan Perikanan Tawar (Ikan Mas, Nila dan Gurame), yang sekaligus sebagai sumber irigasi dengan skema Drip Irrigation System.

Progres 8 Bulan Operasional (Juli 2016 – April 2017)

Implementasi Agro Tegalwaru dimulai dari 29 Juli 2016, dari tahapan awal Land Clearing dan Olah Lahan, sampai penanaman benih,  dan secara keseluruhan 8 bulan operasional sampai laporan ini di turunkan di bulan April 2017.

Fokus awal adalah perbaikan intensif lahan untuk mengembalikan kualitas hara tanah dan air yang dilakukan di 3 bulan awal (Environment Sustainability) dan di susul dengan pola tanam khusus untuk tanaman Jangka Pendek (mix Sayuran), Jangka Menengah (Pepaya dan Pisang) dan di tahap akhir tanaman jangka Panjang (Durian). Periode tanam diselesaikan di Februari 2017 untuk Durian, Pepaya, Pisang dan mix Sayuran, dan dilanjutkan dengan perawatan pasca tanam.

Desain Lansekap Agro Tegalwaru, April 2016 (doc. Trijaya)

Panen perdana dari sayuran PakChoy di bulan Desember, atau 4 bulan dari mulai implementasi awal, dan selanjutnya bergiliran panenan komoditas sayuran dan buah jangka pendek setiap bulannya. Dengan skema tersebut, pada bulan April 2017 (8 bulan operasional) lebih kurang 25-30% operasional kebun sudah berhasil ditutup dari hasil penjualan produk sayuran (Jangka Pendek). Dan selanjutnya mulai April-Mei 2017 akan mulai masuk panen komoditas Pepaya Merah Delima (400-500 kg/minggu), dan disusul pisang dengan estimasi Juni - Juli 2017. Economic Sustainability menjadi target pengelolaan kebun, dengan target tercapai fase economic sustainability di akhir tahun ke -2 atau awal tahun ke -3. Dalam artian, 100% biaya operasional agro akan tertutupi dari hasil produksi Pisang dan Pepaya, sebelum agro masuk ke produk utama Durian di tahun ke -4 atau 5.

Peneliti Balitbu Tropika Dr. Panca Jarot S (berkopiah) saat berada dilokasi
Owner PT TAM Hendra Gunawan Hatmidireja (kaos putih) dan Arie MP Rachmadi (kaos biru)

Kontribusi revenue produk periode Juli 2016 – Maret 2017 (Trijaya)

Dalam operasional kebun, digunakan tenaga kerja lokal sebanyak 4-6 orang tergantung kebutuhan lapangan. Supervisi, pelatihan dan praktek dilakukan secara langsung oleh team Trijaya selama periode kritis 4 bulan awal, dengan skema pembelajaran ‘3 Step Learning’ (referensi model 3 Step Learning banyak tersedia di Google). Pada posisi saat ini – 8 bulan setelah implementasi, Agro Tegalwaru sudah memiliki team inti dengan pengalaman lapangan, kompetensi memadai dan mampu bekerja mandiri untuk melakukan perawatan kebun sesuai dengan SOP dari Trijaya  (Social Sustainability)

Kesimpulan dan Tindak Lanjut

Penerapan konsep Sustainablity Agroecosystem merupakan proses berkesinambungan dan dilakukan secara bertahap oleh team Trijaya Agro Mandiri (TAM) pada Agro Tegalwaru, Ciampea Bogor. Terlepas dari tantangan teknis desain agro dan implementasi dalam penerapan model tersebut, Sustainable Agroecosystem memberikan hasil awal yang menjanjikan dari sudut benefit Agro, benefit Environment dan benefit Economic. Dalam konteks investasi Agro Buah Durian yang sifatnya jangka panjang dan beresiko tinggi, deployment dalam skema ‘Sustainable Agroecosystem’bisa memberikan model pengelolaan investasi agro yang lebih baik, terstruktur dan memiliki resiko investasi yang lebih rendah.

Kondisi kebun per 20 April 2017, pepaya Merah Delima menunggu panen
(dokumentasi Trijaya)
Artikel dan foto : Arie MP. Rachmadie
Editor : Tim Web
April 2017

Pin It