JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Berita

Hamparan Merah Delima Di Lereng Gunung Kelud Kediri

Balitbu Tropika, 2017. Priyo Sapto Adi adalah petani pengusaha yang “nekad” menanam pepaya Merah Delima di lereng gunung Kelud tepatnya di desa Satak – Kec. Puncu – Kab. Kediri – Jawa Timur. Areal kebun yang ditanami cukup luas yaitu 50 Ha, dengan populasi tanaman sebanyak 50.000 batang belum termasuk lahan yang berisi tanaman berumur 6 bulan yang ditumpangsari dengan cabe. Luasan kebun tersebut merupakan bagian dari 135 Ha tanaman pepaya varietas Dampit dan varietas lain. Lokasi pengembangan pepaya ini sangat strategis dengan jarak ± 35 Km dari kota Kediri. Sehingga selain sebagai kebun produksi, kebun tersebut mulai diperkenalkan sebagai sarana agrowisata

Suami dari Endah Prastiyowati dan bapak 5 orang anak ini sempat dibilang “edan” oleh warga sekitarnya karena kenekatannya tersebut. Namun dengan niat baik dan penuh keyakinan  tujuan usaha ini adalah untuk membantu kesejahteraan warga sekitar. Prio Sapto Adi percaya Allah akan membimbingnya. Tujuan beliau adalah memberikan peluang kerja bagi para pekerja disektor pertanian yang tidak memiliki lahan luas atau bahkan tidak memilik lahan, agar memperoleh kesejahteraaan dengan mengikutsertakan mereka pada kegiatan tersebut.

Priyo Sapto Adi

Sebelum menanam pepaya Merah Delima, Pak Adi (panggilan akrabnya) dengan kesibukannya yang padat dan latar belakang pendidikan bukan pertanian ini sudah menanam varietas Dampit dan varietas lain seluas 70 Ha di lahan yang disewa dengan cara KSU (Kerjasama Sewa Usaha). Usaha tersebut pada saat hari-hari biasa dibantu oleh  50 orang dan bisa sampai 100 orang pada saat petik. Kurang lebih setahun yang lalu, melalui Rektor Universitas IBA, Dr Ir Karlin Agustina, MSi beliau memperoleh informasi tetang pepaya Merah Delima. Melalui perkenalan dengan peneliti pemulia pepaya Balitbu Tropika Tri Budiyanti, Pak Adi memperoleh benih pepaya Merah Delima dan informasi tentang pengelolaan budidaya pepaya.  Saat ini pepaya Merah Delima sudah berumur 10 bulan dan baru panen sekali dengan penyimpangan betinanya dibawah 5%.


Pembibitan pepaya Merah Delima

Sebagian hamparan tanaman pepaya difoto dari atas bukit

 


Pepaya  Merah Delima diantara pertanaman kopi

Hamparan tanaman pepaya yang cukup luas ini  ditanam diantara tanaman kopi yang sudah berproduksi. Saat ini pasarnya baru bisa untuk memenuhi Jakarta saja, dimana awal panen 2-3 truk menengah (5-6 ton/ truk)/minggu dan kalau sudah panen raya mencapai 12 - 15 truk per hari. Harapannya kedepan bisa memasarkan sampai ke kota-kota besar lain dan tentunya bisa ekspor ke beberapa negara, sehingga cita-cita mengembangkan pepaya Merah Delima bisa terlaksana. Dengan harga jual lebih tinggi dari 2 varietas lain yang ditanam yang didukung kondisi lahan yang subur tentunya sangat menjanjikan untuk dikembangkan. Untuk varietas Dampit yang sudah berumur 4 tahun lebih akan dilakuan rejuvinasi, dengan harapan nantinya akan tumbuh tunas baru sehingga secara hitungan akan menghasilkan populasi sebanyak 2 kali dengan asumsi per batang akan tumbuh dan dipelihara sebanyak 2 tunas.


Bp. Adi dan Merah Delima yang berumur 10 bulan (kiri)
Dukungan keluarga dalam berusaha tani (kanan)
.

Tumpang sari cabe, Merah Delima dan kopi

Tantangan yang dihadapi saat ini adalah serangan penyakit Erwinia papayae walau yang menyerang antara 3-5% dari populasi namun hal ini selalu beliau pantau untuk dapat dikendalikan sedini mungkin dengan menggunakan bakterisida, karena penularannya cukup cepat dan efeknya sangat berpengaruh terhadap produktifitas buah. Kemudian untuk hama yang menyerang adalah tungau merah (Tetranychus cinnabarrinus) dikendalikan akarisida.


Kegiatan pengendalian hama penyakit

 


Saat panen salah satu varietas yang siap kirim ke Jakarta
.

Selain dikirim ke Jakarta juga untuk memenuhi permintaan pasar lokal
Kediri, Pebruari 217
Artikel : Tim Web
Foto : PS Adi dan Khoirul M

Pin It