JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Berita

EKSPLORASI PEPAYA BALITBU TROPIKA :
PEPAYA CARICA DIENG PLASMANUTFAH YANG HARUS DILESTARIKAN

Balitbu Tropika, 2016. Keragaman pepaya di Indonesia cukup tinggi, hal ini dapat dilihat dari beragamnya ukuran, rasa dan warna buah yang ditemukan di beberapa daerah. Salah satu jenis pepaya yang sangat berbeda yaitu pepaya carica yang ditemukan di daerah dataran tinggi Dieng Kabupaten Wonosobo dan  Bali. Jenis ini berasal dari dataran tinggi Andes, Amerika Selatan, diintroduksi ke Indonesia pada masa menjelang Perang Dunia II oleh pemerintah Kolonial Belanda. Pepaya gunung atau carica termasuk spesies Carica pubescens Lenne & K.Koch (http://wikipedia.org).

Wilayah agroekosistem yang sesuai untuk pertumbuhan carica sangat terbatas. Carica hanya dapat tumbuh di dataran tinggi. Pepaya carica ditemukan di dataran tinggi Dieng,  mulai pada ketinggian  ± 1400 m dpl, sedangkan populasi terbanyak terdapat pada ketinggian  ± 2400 m dpl. Menurut Laily (2010), pepaya carica (C. pubescens) mempunyai ciri khas yaitu terdapat bulu-bulu (trichoma) di beberapa bagian tanaman, di antaranya tampak jelas pada permukaan luar daun bagian bawah (abaksial), tangkai daun, permukaan luar bunga, baik bunga jantan maupun bunga betina. Pepaya carica mempunyai tipe percabangan yang banyak. Pepaya jenis ini memiliki jenis bunga jantan, betina, dan hermaprodit, tetapi hasil liputan tim eksplorasi hanya menemukan tanaman yang berbunga betina.

Buah pepaya carica berbentuk globular dan punggung buahnya berbelimbing. Kulit buah muda berwarna hijau tua dan setelah masak berwarna kuning. Bobot  buah antara 100-300 gram/buah, panjang buah 6-9 cm,  diameter buah 5-7 cm. Kulit buah dan daging buah kenyal, berwarna kuning, rasanya agak asam tetapi harum. Bijinya berwarna hitam, jumlah banyak dan keras, diselimuti sarkotesta yang tebal. Sarcotesta mempunyai rasa agak manis, asam dan aroma harum. Buah pepaya carica jarang dimakan langsung karena rasanya kurang manis, tetapi lebih sering dijadikan buah olahan. Daging buahnya diolah menjadi manisan, keripik, dodol dan jely.

Penampilan pepaya carica : a. daun , b. bunga dan c. kebun pepaya carica di Dieng Wonosobo

Pepaya carica di lereng gunung Dieng ditanam sebagai tanaman sela, tumpang sari dengan sayur-sayuran. Menurut informasi dari petani setempat, perbanyakan tanaman carica adalah dengan cara stek tunas. Tanaman carica yang tumbuh di wilayah Kabupaten Wonosobo berjumlah kurang lebih 120.634 batang dengan total produksi sekitar 8.637,7 ton. Potensi pengembangan carica di Wonosobo sangat besar karena didukung oleh iklim yang sesuai terutama dari suhu udara, yakni suhu rata-rata pada siang hari 22oC dan 15- 24oC pada malam hari, berada pada ketinggian 2.250 m dpl (http://p3m.amikom.ac.id/ ). Terbatasnya agroekosistem yang sesuai untuk pertumbuhan pepaya carica menyebabkan wilyah pengembangan yang sempit dan populasi yang sedikit. Oleh karena itu perlu dilakukan koleksi  guna pelestarian plasmanutfah tersebut.

Potensi genetik pepaya carica (C. pubescens) yang tumbuh di dataran tinggi Dieng belum dimanfaatkan untuk perbaikan varietas tanaman pepaya. Drew dan Haireen (2014), melakukan identifikasi potensi ketahanan genetik C. pubescens terhadap virus PRSV. Melalui hibridisasi interspesifik dengan pepaya komersial di Indonesia, dapat dirintis perakitan varietas pepaya untuk ketahanan terhadap PRSV.

Produk olahan pepaya carica :
a. Buah pepaya carica,
b. Biji dan sarkotesta sebagai bahan sirup,
c. Daging buah siap diolah,
d. Manisan selesai dikemas dan disterilkan,
e. Berbagai produk olahan (keripik, jely dan dodol) carica,
f. Manisan carica exotic warna bit merah,
g. Manisan carica siap untuk dipasarkan

Pemanfaatan pepaya carica untuk manisan, dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di dataran tinggi Dieng. Hal ini dapat dilihat dengan menjamurnya industri olahan  manisan carica di Kabupaten Wonosobo terutama di Dieng. Tim eksplorasi pepaya Balitbu Tropika  melakukan kunjungan ke industri manisan pepaya carica. Salah satu home industry yang dikunjungi yaitu produsen manisan Carica Exotic. Manisan Carica Exotic diproduksi oleh LMDH Alam Lestari Dieng Wonosobo, milik ibu Sri Endarwati.  Menurut ibu Sri manisan carica diproduksi menggunakan gula asli dan hanya ditambahkan sedikit pengawet natrium benzoat. Manisan carica exotic dapat disimpan selama 3-6 bulan. Manisan yang diproduksi terdiri dari tiga rasa yaitu rasa manis original, rasa pedas dan manis warna merah. Untuk pewarna merah Ibu Sri menggunakan umbi bit  yang direbus dengan air sampai larutan berwarna merah. Tantangan yang dihadapi yaitu warna merah umbi bit pada manisan carica akan luntur pada waktu yang singkat (2-3 minggu). Hal ini menjadi salah satu peluang penelitian untuk Nida (mahasiswa THP Universitas Gajah Mada) yang tertarik untuk memperbaiki kualitas warna manisan carica.

Tim Peneliti Balitbu Tropika bersama Ibu Sri Endarwati pemilik Carica Exotic

 

Oleh: Tri Budiyanti, Noflindawati dan Dewi Fatria
14 Maret 2016

 

Pin It