JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Berita

Marker Assisted Breeding Workshop
16-22 Agustus 2015
Michigan State University

Balitbu Tropika mengirimkan dua orang penelitinya, Riry Prihatini, S.Si, M.Sc dan Yulia Irawati, SP., M.Si mengikuti workshop Marker Asssited Breeding (MAB) yang diadakan di Michigan State University (MSU), Amerika Serikat. Secara keseluruhan workshop yang diadakan pada tanggal 16 hingga 22 Agustus 2015 ini, diikuti oleh 24 orang peserta dari 11 negara, yaitu Indonesia, Amerika Serikat, India, Tiongkok, Kyrgyztan, Nigeria, Ghana, Mozambique, Colombia, Uganda, dan Kenya.

Gambar 1. Peserta workshop Marker Assisted Breeding berfoto dengan latar belakang patung Bapak Hortikultura Amerika, Liberty Hyde Bailey.

Workshop MAB diadakan sebagai sarana transfer informasi mengenai pemuliaan tanaman berbasis molekular dari para pakar pemulia tanaman di MSU kepada pada peneliti di negara lain. Selain itu, dengan berlangsungnya workshop ini diharapkan terjalin jejaring kerja sama di antara pemulia tanaman di seluruh dunia. Jejaring kerjasama tersebut diharapkan dapat meningkatkan partisipasi negara berkembang dalam usaha menghasilkan varietas tanaman baru demi pemenuhan kebutuhan pangan dunia yang kian hari kian meningkat.

Pada workshop ini dijabarkan mengenai dasar-dasar MAB, termasuk sejarah mengenai pemuliaan tanaman dan teori dasar yang melatar belakangi berkembangnya MAB. Sesi perkuliahan tersebut diikuti dengan penjabaran mengenai perkembangan MAB terkini, di antaranya genome editing, genome wide association studies and genomic prediction, genomic guided breeding, serta pemetaaan genetik. Sesi perkuliahan ini diisi oleh para pakar MAB di MSU seperti Prof. Dave Douches (pakar pemulia kentang), Prof. James D. Kelly (pakar pemulia kacang merah), Prof. Robin Buell (pakar genomik tumbuhan), Prof. Fred Erbicsh (seorang perintis HKI di Amerika Serikat), Prof. Dechun Wang (pakar pemulia kedelai), Dr. Karim Meredia, dan Ass. Prof. Cholani Weebadde.

Selain sesi perkuliahan, peserta workshop juga diperkenalkan melalui hand on exercise dengan berbagai sofware penunjang MAB, yaitu R software, Join map, dan Carthographer. Pada hari ke-3 pelaksanaan workshop, peserta dibawa mengunjungi laboratorium pemuliaan di MSU, petak percobaan, serta lahan pertanian jagung dan kedelai milik seorang petani di Lansing, Michigan. Worskhop ditutup dengan presentasi perwakilan negara peserta workshop mengenai perkembangan penelitian MAB di tiap negara.

Satu hal penting yang dapat disimpulkan dari workshop ini bahwa MAB adalah sebuat alat yang dapat digunakan untuk mempercepat dan menghemat semua sumber daya dalam pelaksanaan program pemuliaan tanaman. Pengaplikasian MAB hanya sebagai pendamping pada kegiatan pemuliaan konvensional. MAB dan pemuliaan konvensional adalah dua hal yang saling mendukung, tanpa salah satunya program pemuliaan tanaman akan berjalan dengan sangat lambat. Percepatan program pemuliaan menjadi hal yang sangat mendesak untuk dilakukan demi mengimbangi peledakan jumlah penduduk dunia. Pemulia tanaman masa kini diharpkan dapat meneruskan warisan Dr. Norman Borlaugh, Bapak pemulia tanaman dunia, The Man Who Fed The World.

Gambar 2. (a) Dan Zarka menjelaskan mengenai mesin SNP sekuenser Illumina pada kegiatan kunjungan laboratorium, (b) Prof. Dave Douches menjelaskan mengenai kegiatan pemuliaan kentang di MSU, (c) Kit pendektsi GMO (Genetically Modified Organisms): apabila kit menunjukkan dua garis (sebelah kanan), maka sampel termasuk GMO, dan (d) ladang kedelai GMO miliki seorang petani di Lansing, Michigan.

(Riry Prihatini)

08 September 2015


 

Pin It