JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Berita


LAI, DURIAN BERWARNA DAGING ATRAKTIF

POTENSI EKSPOR

Indonesia memiliki potensi sumberdaya genetik tanaman buah tropika, khususnya durian, yang berlimpah. Lai atau Pampaken (Durio kutejensis Becc.) merupakan salah satu kerabat durian yang memiliki potensi pasar domestik dan ekspor yang cukup tinggi untuk mendampingi durian. Pengembangan dan promosi komoditas ini perlu digalakkan agar bisa menjadi komoditas unggulan masa depan Indonesia.

Pengembangan komoditas buah tropika, khususnya durian, perlu ditingkatkan untuk menahan laju impor. Tanaman durian yang berkembang di masyarakat umumnya tumbuh secara alamiah dan dimiliki secara turun temurun. Selain varietasnya yang beragam, kebanyakan tanaman masih berasal dari biji dan tidak mendapatkan input yang memadai. Namun demikian, komoditas ini mampu bertahan sebagai komoditas buah ke-4 di Indonesia setelah pisang, jeruk, dan mangga, dengan produksi 682.000 ton dari luas panen 56.655 ha di tahun 2008 (Statistik Pertanian 2009). Fakta ini merupakan salah satu petunjuk adanya potensi besar yang dimiliki durian.

Disamping memperhatikan aspek kuantitas, pengembangan komoditas ini ke depan juga perlu memperhatikan aspek kualitas. Yang tidak kalah penting juga perlu dicari terobosan-terobosan dalam membangun citra durian nusantara. Salah satunya dengan memanfaatkan potensi sumberdaya genetik lokal kerabat durian yang banyak tersebar di berbagai daerah.

Durian merupakan salah satu genus tanaman buah asli Indonesia dan Kalimantan dianggap sebagai pusat asalnya (center of origin). Diantara 28 spesies yang ada di dunia, 19 spesies berasal dari Kalimantan dan Sumatera (Nanthachai 1994: Brown 1997), dan 7 spesies diketahui menghasilkan buah yang bisa dimakan (edible) (Gadug and Voon 2000). Lai (Durio kutejensis Becc.) merupakan salah satu dari enam durian edible tersebut.

Lai atau Lay merupakan nama khas yang diberikan oleh penduduk asli Kalimantan Timur. Di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah Lai dikenal dengan nama Pampaken atau Pampakin (Krismawati dan Sarwani 2005; Antarlina 2009), di Serawak dikenal sebagai durian Nyekak, sedang di Brunei dikenal dengan nama durian Pulu (Nanthachai 1994).

Lai merupakan jenis durian yang endemik di Kalimantan terutama di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Namun demikian, ia juga dijumpai tumbuh baik di Sumatera dan Jawa. Beberapa tanaman tampak tumbuh baik di Palembang, Riau, Sumatera Barat dan Jambi. Tanaman ini juga dijumpai tumbuh baik di KP. Subang dan taman buah Mekarsari. Di Banyuwangi juga ditemui Lai yang dapat berbuah dengan baik (Pengamatan pribadi).

Lai memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai salah satu produk unggulan buah tropika, namun pamornya masih tertutup oleh ketenaran durian dari spesies D. zibhetinus. Oleh karena itu kepedulian dan upaya promosi Lai perlu ditingkatkan agar citra salah satu komoditas unggulan masa depan ini meningkat dan dapat menjadi pendamping durian.

 

Karakteristik Lai

Ciri khas Lai dibandingkan dengan durian adalah pada daun, bunga dan buahnya. Pohon Lai sama dengan durian pada umumnya, tetapi memiliki daun yang ukurannya lebih besar dan tebal. Panjang daunnya bisa mencapai 20-25 cm, dengan lebar 5-7 cm.  Bunganya besar, menarik dengan warna bervariasi dari merah muda (pink) sampai merah tua. Buahnya kecil sampai sedang (1-2 kg), bertangkai pendek, berwarna hijau muda atau hijau kekuningan saat mentah, dan kuning hingga coklat bila telah masak penuh, berkulit relatif tipis dan duri tidak tajam.

Gambar 1. Salah satu jenis mandong, apun atau mantoala, (Durio exelcus) Koleksi Balitbu Tropika. Keragaan pohon, bunga, buah di cabang

Gambar 2. Ttampilan luar buah, tampilan bagian dalam dan biji durian di antara daging buah.

Musim panen Lai biasanya bulan Januari sampai Maret, dengan masa puncak bulaPebruari. Lai mempunyai porsi daging buah 20-40%. Teksturnya agak kering atau n lembut dan halus tergantung pada varietasnya. Buahnya yang baru gugur biasanya belum masak penuh dan mutunya meningkat beberapa hari setelah gugur. Warna daging bervariasi dari kuning, kuning tua, oranye, sampai merah, dan memiliki aroma yang lembut, kadang-kadang beraroma wangi mawar. Warna biji bervariasi dari coklat sampai coklat tua gelap.

Potensi Lai

Kelebihan Lai pada aroma yang lembut, warna daging atraktif, daya simpan yang lebih lama, dan musim panen yang berbeda dengan durian, memberikan peluang pasar lebih luas pada Lai baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Kelebihan ini dapat menutup kekurangan yang selama ini menjadi kendala pada komoditas durian. Dengan kelebihan ini Lai dapat menjadi pendamping durian sebagai komoditas unggulan trend setter Indonesia di masa depan, baik pemanfaatan secara langsung maupun tidak langsung untuk perbaikan varietas durian (Purnomo et al. 2005).

Aroma yang sangat lembut bahkan hampir tidak beraroma, atau kadang beraroma wangi mawar membuka peluang untuk konsumsi durian di dalam ruangan atau dihidangkan di meja makan, dimana hal ini tidak biasa untuk durian. Demikian pula aroma yang lembut ini lebih sesuai untuk konsumen baru, apabila ingin mengenalkan durian di pasar ekspor. Karena para konsumen baru biasanya akan menolak durian pada kesan pertama sehubungan dengan baunya yang tidak nyaman. Demikian juga masalah transportasi, yang biasanya menolak penumpang yang akan membawa durian. Mungkin hal ini nanti tidak lagi menjadi masalah dengan Lai.

Warna yang menyolok dan atraktif, kuning tua atau oranye, sangat menarik dan menggugah selera. Selain menunjukkan tingginya kandungan karoten atau provitamin A (Djufry dan Jumberi 2005), dengan karakter warna yang atraktif ini menjadikan Lai lebih sesuai untuk dipasarkan dalam bentuk segar tanpa kulit dibungkus dengan stereoform dan plastik transparan, atau disebut durian segar dengan olahan minimal. Disamping memberi kesan yang menarik, cara ini akan memudahkan untuk ekspor. Dengan cara ini akan lebih efisien dalam biaya, karena hanya memasarkan bagian edibel dan biji, juga mengurangi sampah bagi negara tujuan, karena lebih dari 60% durian adalah kulit. Negara maju seperti Australia bahkan telah menerapkan peraturan hanya impor durian segar tanpa kulit, karena alasan sampah dan karantina (Zappala 2002). Sebagaimana diketahui, bersama kulit durian akan terbawa berbagai mikroorganisme dan telur hama yang mungkin akan berbahaya bagi negara tujuan ekspor.

Daya simpan lebih lama yang dimiliki Lai akan menjadi salah satu solusi dalam distribusi durian, baik di dalam negeri maupun untuk tujuan ekspor. Sebagaimana masalah durian lokal kita yang umumnya mudah pecah karena memiliki umur simpan yang pendek (Wibawa 2009), maka Lai tidak demikian. Dengan kemasakan yang optimal justru diperoleh setelah disimpan beberapa hari, dan tahan sampai 7 hari setelah masak, menjadikan Lai sebagai buah yang ideal untuk transportasi jarak jauh.

Sebagai penutup dari serangkaian panen buah-buahan tropika Indonesia, maka Lai memiliki potensi satu lagi yaitu sebagai penghambat laju durian impor. Caranya dengan memperlambat distribusinya, baik melalui cara kultur teknis atau penyimpanan buah dalam cold storage sampai bulan Mei atau Juni. Karena pada bulan inilah terjadi panen raya durian di Thailand dan mulai menyerbu pasar Indonesia.

 

Varietas Unggul Lai

Beberapa varietas Lai sudah beredar di masyarakat, baik yang sudah dilepas sebagai varietas unggul maupun yang belum dilepas, diantaranya adalah Lai Mas, Lai Kayan, Lai Rencong, Lai Nangka dan Lai Batuah. Lai Mas merupakan salah satu varietas yang pertama kali diperkenalkan ke umum. Walaupun belum dilepas sebagai varietas unggul, ia sudah cukup dikenal. Di Taman Buah Mekarsari, varietas ini telah ditanam cukup banyak dan sudah berproduksi. Pada musim buah ia menjadi salah satu daya tarik dalam pesta kebun bertema durian (komunikasi pribadi).

Lai Kayan, Lai Rencong, Lai Nangka dan Lai Batuah, merupakan varietas Lai yang terbilang baru, dan telah dilepas sebagai varietas unggul dari Kalimantan Timur.  Varietas-varietas ini sekarang sedang mulai dikembangkan. Beberapa kebun telah menghasilkan dan ternyata cukup diminati konsumen. Informasi terakhir, varietas ini juga diminati oleh eksportir dari Singapura dan Malaysia (Diperta Kaltim, komunikasi pribadi). Dan masih banyak lagi Lai yang tersebar di kawasan lain di Kalimantan yang belum dieksplorasi atau dipromosikan ke umum.

Gambar 3. Lai Mas di Mekarsari; ukuran buahnya sedang, cukup untuk konsumsi satu orang.

Sayangnya, citra Bangkok kadang masih melekat pada buah kita yang unggul hanya karena ulah pedagang yang ingin ambil jalan pintas. Sebagai contoh: di Palembang, Riau dan Jambi, durian Lai Mas diperkenalkan oleh pedagang benih dengan nama Bangkok Mas. Bahkan beberapa hobbiis baru menganggap Lai berasal dari Thailand, karena ia memperoleh bibit dari sana.

Salah satu durian Lai dari Kalimantan Tengah. Kulitnya berwarna putih susu dengan daging oranye. Tampak menggugah selera

 

Lai Rencong, salah satu durian Lai andalan Kalimantan Timur sudah mulai diminati eksporter Singapura dan Malaysia

 

Salah Kaprah Seputar Lai

Ada beberapa salah kaprah pada buah Lai dan durian. Karena umumnya Lai memiliki rasa yang kurang manis, banyak orang beranggapan semua Lai tidak enak. Padahal, sebagaimana durian zibhetinus yang beragam rasa mulai dari yang hambar sampai yang manis dan pahit, demikian juga Lai. Terbukti akhir-akhir ini dengan ditemukannya varietas unggul Lai yang memiliki rasa yang manis. Beberapa sumber di Kalimantan Timur juga mengaku memiliki Lai yang rasanya seperti durian, manis legit.

Lai tidak mengandung kolesterol dan rendah alkohol, demikian pembawa acara salah satu media TV memperkenalkan durian Lai. Informasi ini tidak salah, tetapi seolah-olah hanya Lai yang tidak mengandung kolesterol. Padahal yang namanya kolesterol itu hanya diproduksi oleh hewan (lemak hewani). Dan tidak ada satupun tanaman yang mengandung bahan ini. Jadi kita tidak perlu cemas kolesterol akan naik bila mengkonsumsi durian, apalagi Lai. Meningkatnya mood setelah makan durian, sebenarnya disebabkan kandungan tryptophan yang tinggi (Aminuddin 2010). Demikian juga kandungan kalium, vit B6 dan vit C yang tinggi akan menambah kebugaran bagi yang mengkonsumsi durian.

Sedangkan kadar alkohol yang rendah pada Lai, yang menurut sebagian orang dikandung oleh durian sehingga berasa pahit, adalah tidak tepat. Karena alkohol merupakan senyawa yang dihasilkan dari fermentasi karbohidrat atau gula dengan bantuan mikroorganisme, bukan disintesis oleh tanaman itu sendiri. Jadi, bila ada alkohol dalam durian, itu berarti duriannya telah lewat masak alias busuk.

 

Penutup

Lai, sebagai salah satu kekayaan sumberdaya genetik buah tropika Indonesia yang menyimpan potensi pasar domestik maupun ekspor. Tidak hanya sebagai pendamping durian, tetapi juga bisa menjadi komoditas trend setter di masa depan. Dengan berbekal kelebihan karakter buah, kepedulian semua kalangan, rasa nasionalisme dan kebanggaan, Lai siap muncul sebagai komoditas unggulan citra buah Indonesia.

Terima kasih : Panca Jarot Santoso@2012

 


Pin It