JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Nilai komersial komoditas pepaya Merah Delima menjadi salah satu daya tarik untuk pengembangan budidaya buah yang rasanya manis ini. Hal inilah yang mendorong petani di kota Pekanbaru Riau untuk merintis berkebun pepaya Merah Delima. Sebut saja Nasri Joni dan Hendri Toni, dua orang kakak beradik ini mulai mengembangkan pepaya Merah Delima di Kampar sejak tahun 2015 melalui kerjasama permodalan dari Universitas Islam Riau dan pendampingan teknologi dari Balitbu Tropika dan BPTP Riau.

Permintaan pasar yang tinggi terhadap pepaya Merah Delima di wilayah Riau dan Batam mendorong petani di Riau ini untuk menambah luas tanam sehingga saat ini mencapai 15 Ha.

Kebutuhan benih pepaya Merah Delima yang tinggi seiring dengan peningkatan permintaan untuk perluasan pengembangan menyebabkan Tim Perbenihan Balitbu Tropika melatih dan menginisiasi penangkar benih di Riau.
Menurut peneliti Balitbu Tropika Tri Budiyanti pepaya Merah Delima adalah jenis varietas bersari bebas sehingga benih dapat diproduksi dengan mudah menggunakan teknologi perbenihan yang benar. Oleh karena itu Kepala Balitbu Tropika Dr. Ellina Mansyah memberikan dukungan perbenihan pepaya Merah Delima melalui penyelenggaraan pelatihan bagi petani untuk belajar teknik produksi benih pepaya yang benar.

Sampai saat ini Hendri Toni dan Nasri Joni sudah memasarkan kurang lebih 100.000 benih pepaya Merah Delima mulai dari wilayah sekitar Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Papua dan NTT. Menurut Joni bisnis benih pepaya Merah Delima cukup menguntungkan karena dari satu buah pepaya dapat menghasilkan keuntungan mencapai Rp.25.000,-. Perlakuan isolasi bunga dan tanaman serta prosesing biji yang sempurna menjadi kunci dari terjaganya kualitas benih pepaya, ujar Joni. Saat ini harga jual benih pepaya per biji yaitu Rp.350,- sedangkan benih siap tanam umur 1,5 bulan seharga Rp.3500,-.
Kehadiran petani penangkar benih pepaya Merah Delima ini telah menjadi pendorong bertambahnya luas pengembangan pepaya Merah Delima di Propinsi Riau. Sinergi antara Balitbangtan, BPSB dan pendampingan kepada petani penangkar harus terus digiatkan sehingga benih yang dihasilkan petani penangkar tetap terjaga kualitasnya.

Sumber : Tri Budiyanti

Pin It